FAMILY

Beberapa Pendidikan Seks yang Perlu Diajarkan pada Anak

Kumara Anggita
Senin 01 Maret 2021 / 17:47
Jakarta: Berbicara dengan anak tentang seks mungkin terasa canggung dan membuat kamu perlu memutar otak namun ini perlu dilakukan agar anak mendapatkan pengetahuan terkait hal ini dari sumber yang tepat. 

Dikutip dari Healthline, kamu bisa bicara terkait hal-hal ini sedini mungkin dan sesering mungkin agar suasana tidak canggung. Tujuannya adalah untuk menormalkan pendidikan seksual. 

Agar kamu tidak bingung, berikut beberapa panduannya lagi dari sumber yang sama:
 

Menjawab pertanyaan anak


"Bimbingan utama yang kami berikan kepada orang tua dan pengasuh adalah 'berbicara lebih awal dan sering'," kata Nicole Cushman, MPH, direktur eksekutif Rutgers University's Answer, sebuah organisasi nasional yang menyediakan sumber daya pendidikan seksualitas yang komprehensif.

"Menjadikan seks bukan masalah besar untuk dibicarakan sejak hari pertama kemungkinan besar akan menumbuhkan kepercayaan antara kamu dengan anak-anak kamu,” jelas Elle Chase, ACS, seorang pendidik seks bersertifikat. "Ini sangat membantu ketika mereka ingin mendatangi kamu nanti dengan pertanyaan,” jelasnya.
 

Berbicara tentang kehidupan, cinta, dan etika


Akan ada banyak kesempatan sepanjang hidup seorang anak untuk berbicara tentang semua aspek seksualitas. Yang paling penting adalah orang tua membahas topik ini lebih awal dan cukup sering, sehingga jenis diskusi ini terasa normal.

Membangun fondasi untuk komunikasi terbuka dapat memudahkan kamu untuk memelajari aspek seksualitas yang lebih kompleks yang akan dihadapi anak-anak seiring bertambahnya usia, seperti cinta, hubungan yang sehat, dan etika. 

Menurut para peneliti Harvard, elemen-elemen kunci ini hilang dari pembicaraan kebanyakan orang tua dan orang dewasa lainnya dengan kaum muda tentang seks. Jadi bukalah komunikasi dari sekarang.
 

Mendefinisikan seperti apa hubungan yang sehat itu


Dalam hal cinta, mereka merekomendasikan agar orang tua membantu remaja memahami perbedaan antara ketertarikan yang intens dan cinta yang dewasa. Remaja mungkin bingung apakah perasaan mereka cinta, tergila-gila, atau mabuk. 

Mereka mungkin juga merasa tidak yakin tentang bagaimana mengidentifikasi penanda hubungan yang sehat versus tidak sehat. Orang tua dapat membimbing remaja dengan contoh dari media atau kehidupan mereka sendiri. 

Menurut para peneliti, penanda kunci tersebut harus berkisar pada apakah suatu hubungan membuat kedua pasangan lebih saling menghormati, penyayang, generatif, dan penuh harapan.
 

Mendefinisikan pelecehan dan diskriminasi


Untuk mengembangkan hubungan yang sehat, remaja perlu memahami apa artinya menghormati dalam konteks seks dan pacaran. Para peneliti merekomendasikan agar orang tua menjelaskan seperti apa bentuk umum misogini dan pelecehan seperti catcalling dan masih banyak lagi. 

Penting juga bagi remaja untuk melihat orang dewasa turun tangan dan menolak jenis perilaku tersebut di komunitas mereka. Intinya adalah menjadi orang yang etis adalah bagian mendasar dari hubungan yang sehat, baik itu hubungan seksual atau persahabatan. 

Ketika orang tua membantu anak-anak mereka memahami bagaimana menghormati dan merawat orang dari jenis kelamin lain, para peneliti mengatakan hal itu dapat membantu mereka mengembangkan "hubungan yang bertanggung jawab di setiap tahap kehidupan mereka."

(TIN)