FAMILY

Mengenal Toxic Parenting dan Efek yang Ditimbulkan

Raka Lestari
Rabu 15 September 2021 / 11:10
Jakarta: Semua orang tua tentu ingin melakukan dan memberikan pengasuhan yang bahagia dan sehat untuk buah hatinya. Namun tak bisa dipungkiri, orang tua tetaplah manusia. Terkadang, mereka ingin melakukan yang terbaik, tetapi ternyata tanpa disadari itu bukanlah hal yang tepat dan malah berpotensi melukai hati anak-anak.

Mengenai hal tersebut, sistem pola asuh yang justru dapat mengganggu mental anak hingga disebut sebagai toxic parenting. Berdasarkan survei Teman Bumil dan Populix pada 212 responden ibu berusia 20-35 tahun, 83 persen di antaranya mengetahui apa itu toxic parenting.

Menurut Tatik Imadatus Sa’adati, M. Psi., Psikolog, Psikolog Klinis sekaligus Dosen Psikologi Islam IAIN Kediri, toxic parenting datang dari perilaku yang dilakukan oleh toxic parents.

"Istilah orang tua yang toksik atau toxic parents tidak hanya berlaku untuk orang tua yang berperilaku buruk, seperti melakukan kekerasan fisik atau verbal. Menjadi orang tua yang bisa meracuni kondisi psikologis anak terhitung sebagai kekerasan psikis, dan termasuk pula ke dalam kategori orang tua yang toksik," tuturnya.

"Lalu, apa penyebab seseorang bisa menjadi toxic parents? Seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang toksik, kebanyakan akan menjadi orang tua yang toksik pula untuk anaknya. Pasalnya, tubuh menyimpan luka emosional dan fisik. Semua hal dan informasi yang dirasakan dan dialami saat kecil melalui panca indra, akan terekam di dalam sel-sel otak dan tubuh," kata Tatik.

Di saat terjadi sesuatu terhadap kita, maka akan dikelola oleh persepsi di otak dan disimpan di dalam memori sel dan otak. Trauma dan kesedihan masa lalu itu lalu dapat tinggal di dalam diri kita untuk waktu yang lama dan ketika ada trigger tertentu, dapat kembali timbul ke permukaan.

"Akhirnya, akan cenderung mengulangi pola perasaan yang sudah dikenal, tidak peduli seberapa menyakitkan dan merugikannya itu untuk diri sendiri,” jelas Tatik.

Efek dari pola asuh yang toksik antara lain:

- Mengalami kesulitan untuk mengatakan tidak karena terbiasa merasakan batasan tidak dihormati.
- Menjadi lebih rentan untuk mengembangkan gangguan kecemasan.
- Bekerja keras untuk menyenangkan orang lain agar diterima.
- Mengalami kesulitan untuk menjadi diri sendiri.
- Memiliki toleransi yang tinggi terhadap perlakuan buruk dari orang lain.
- Memiliki perasaan bersalah dan malu yang melumpuhkan. Hal ini sebagian besar karena perilaku toksik orang tua yang berulang membuat si Kecil terbebani dan harus bertanggung jawab atas perasaan orang tuanya.
- Memiliki harga diri yang rendah.
- Anak-anak dari orang tua yang kasar juga cenderung menjadi pelaku kekerasan bagi diri mereka sendiri dan akan menjadi pelaku kekerasan terhadap orang lain.
(FIR)