FAMILY

Peran dari Keluarga dan Lingkungan Sekitar dalam Mengatasi Baby Blues

Raka Lestari
Selasa 09 Maret 2021 / 18:10
Jakarta: Kesehatan mental para ibu pasca-melahirkan sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Tetapi hal ini seringkali tidak menjadi perhatian utama bagi para ibu serta keluarganya.

Masalah mental pada ibu perlu menjadi perhatian karena hal ini dapat berdampak pada caranya mengasuh dan merawat bayinya, serta memengaruhi keseluruhan fungsi mereka sebagai ibu dan istri, serta pekerjaannya sehari-hari.

“Baby blues syndrome, depresi dan cemas postpartum merupakan hal yg paling sering terjadi pada para ibu pasca-melahirkan," ujar dr. Daniella Satyasari, Sp.KJ, Spesialis Kedokteran Jiwa di Klinik Health360, dalam acara Virtual Press Conference untuk memperingati International Women’s Day 2021, pada Selasa, 9 Maret 2021.

Sebelum mengatasi hal tersebut perlu dipahami terlebih dahulu apa saja jenis-jenis gangguan, apa saja gejala-gejalanya, penyebabnya, serta apa treatment yang harus dilakukan.

"Perubahan hormon tidak dapat dicegah, tetapi awareness keluarga serta kerabat sekitar dapat menjadi kunci dalam mengatasi gangguan mental pada ibu yang baru melahirkan,” ujar dr. Daniella.

“Dukungan emosi dan fisik dari suami, keluarga serta kerabat sekitar dapat membantu pencegahan gangguan mental, termasuk pencegahan memburuknya situasi serta kondisi mental ibu, serta membantu untuk saling beradaptasi dalam menghadapi situasi yang baru ini," jelas dr. Daniella.

Hal sesederhana membantu yang bisa suami lakukan adalah, mengurus bayi secara bergantian. Memahami bila istri sedang kelelahan atau dalam keadaan emosi juga dapat membantu para ibu terhindar dari gangguan mental postpartum.

Selain perubahan pada hormon, perubahan fisik pada ibu setelah hamil dan melahirkan juga penting untuk diperhatikan. dr. Patricia Halim Puteri, Sp. GK, Spesialis Gizi dari Klinik Health360 Indonesia menjelaskan bahwa, terdapat beberapa perubahan pada fisik ibu pasca melahirkan. Di antaranya perubahan berat badan, perubahan bentuk payudara, perubahan pada uterus, vagina dan vulva, muncul stretch mark pada bagian tubuh tertentu serta kerontokan rambut.

"Kami lebih mengutamakan kesehatan ibu dan tidak menyarankan diet ketat tanpa pengawasan dari dokter spesialis gizi klinis selama proses pemulihan. Diet ketat dapat mengurangi produksi ASI,” tutup dr. Patricia.
(FIR)