FAMILY

Perpusnas Mendukung Peluncuran Aplikasi Iperempuan dan Anak

K. Yudha Wirakusuma
Rabu 14 Oktober 2020 / 21:05
Jakarta: Hingga saat ini Pandemi belum kunjung berlalu. Dampaknya dapat dirasakan ke semua lini, termasuk perempuan dan anak-anak.

Terkait hal tersebut, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mendukung peluncuran aplikasi iperempuandananak yang dibuat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Aplikasi ini diharapkan bisa mendorong peningkatan dan pemberdayaan ekonomi perempuan akibat pandemi.

Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando menyatakan meski kondisi pandemi, perpustakaan tidak akan pernah hilang. Perpustakaan, tegas Syarif, berperan penting dalam sejarah umat manusia sampai akhir zaman sehingga eksistensi perpustakaan harus dirasakan masyarakat. 

“Perpustakaan merupakan jembatan ilmu pengetahuan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan,” ungkap Syarif dalam sosialisasi daring perpustakaan digital Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) yang diselenggarakan pada Rabu, 14 Oktober 2020.

Demi menambah alternatif media digital yang bisa diakses masyarakat, Kementerian PPPA mengembangkan aplikasi iperempuandananak yang dapat diakses melalui gawai, tablet, laptop, dan desktop berbasis Android, IOS, dan Windows.

Dukungan dari Perpusnas untuk iperempuandananak melalui penyediaan sekira artikel jurnal, naskah, dan koleksi perpustakaan lainnya tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. 

“Di Perpustakaan Nasional, ada 500 ribu artikel tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang siap dibagikan dengan Kementerian PPPA,” jelasnya. 

Ke depan, Syarif Bando berharap sinergi antara Perpusnas dengan Kementerian PPPA bisa terus berlanjut. Sehingga layanan berbasis digital yang ada di Perpusnas bisa dimanfaatkan dengan optimal oleh masyarakat.

Sekretaris Menteri PP PA Pribudiarta Nur Sitepu berharap aplikasi tersebut dapat menjadi sumber pengetahuan mengenai isu-isu perempuan dan anak serta pengetahuan lainnya untuk dinas PPPA di daerah dan masyarakat umum. 

Pribudiarta mengambil contoh di negara maju di mana telah ada pemahaman bahwa perpustakaan merupakan pusat peradaban dan pusat ilmu pengetahuan. Dan hal itu menjadi prioritas dalam membangun perpustakaan di negara maju. Selain itu, diharapkan juga perpustakaan pada akhirnya menjadi kebutuhan bagi semua.

“Mudah-mudahan pertemuan ini dapat menjadi bahan pencerahan bagi kami dan teman-teman di daerah dan memahami bahwa perpustakaan merupakan kebutuhan. Para aparatur sipil negara diharapkan juga menjadi butuh akan perpustakaan,” tuturnya.
(YDH)