FAMILY

Cara Perpusnas Meningkatkan Indeks Literasi

K. Yudha Wirakusuma
Selasa 23 Februari 2021 / 20:23
Jakarta: Anak-anak mungkin lebih suka bermain games di telepon pintar ketimbang membaca buku. Membaca buku bisa saja dianggap sebagai kegiatan yang tidak menyenangkan. Hal tersebut bisa saja karena keluarga kamu merupakan keluarga yang tidak terlalu suka membaca buku dan di rumah tidak ada banyak buku-buku.

Selain itu mungkin karena orang tua yang tidak memberikan contoh membaca di depan anak-anak. Untuk meningkatkan minat baca dan literasi, Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI Muhammad Syarif Bando menyerahkan bantuan mobil perpustakaan keliling (MPK) dan meresmikan pojok baca (Pocadi). Bantuan tersebut diberikan untuk Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Penyerahan secara simbolis satu unit MPK diterima Bupati Dairi Eddy Keleng Ate Berutu dan disaksikan anggota Komisi X DPR RI Djohar Arifin Husin. 

Selain itu, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Perpusnas dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi dan Pemkab Toba dan empat perguruan tinggi di Sumut serta talkshow Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat di Balai Budaya Sidikalang, Dairi, Sumut, pada Selasa, 23 Februari 2021.

Sebagai informasi, Kabupaten Dairi menerima Pocadi pada tahun 2020 dan difungsikan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

Saat ini, perpustakaan mengalami perubahan paradigma. Salah satu definisi perpustakaan adalah tempat untuk menemukan solusi menghapus belenggu kebodohan dan kemiskinan masyarakat. Membaca dan perpustakaan menjadi cara untuk meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan.

Pocadi, ujarnya, merupakan salah satu upaya Perpusnas untuk meningkatkan nilai ekonomi produk lokal. Karenanya, para penerima bantuan Pocadi diharapkan bisa memajang produk lokal yang menjadi unggulan daerahnya. “Pocadi memang kecil, tapi akan menjadi pusat mata dunia, kalau seluruh produk lokal kita sudah masuk ke sana,” ujarnya.

Sementara itu, Djohar Arifin menilai Kabupaten Dairi layak mendapatkan bantuan MPK dan Pocadi. Menurutnya, Eddy Keleng merupakan kepala daerah yang memiliki kepedulian tinggi kepada pendidikan dan literasi. Melalui kebijakan dan pengelolaan mengenai minat baca yang berpengetahuan, diyakini akan membuat masyarakat Dairi unggul dalam segala bidang. “Karena kita pilih benar mana yang pantas. Dairi kita utamakan. Kita semakin yakin bahwa masyarakat Dairi di bawah pimpinan beliau akan sangat bisa memanfaatkaan kemajuan IT dan bacaan, dengan semangat literasi,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Djohar mengusulkan agar Kabupaten Dairi membangun museum ulos. Dairi dikenal sebagai pusat ulos Batak. Dia menjelaskan, museum ulos bisa menjadi daya tarik wisata Dairi. “Sehingga dari dunia luar, mau tahu tentang ulos, silakan datang ke Dairi. Maka kita yakin akan datang didatangi orang,” ungkapnya.

Sementara itu, Eddy Keleng mengungkapkan terima kasih kepada Kepala Perpusnas dan Komisi X DPR RI atas dukungan yang diberikan kepada pihaknya. Dia berharap, hal ini bisa memotivasi dan membangun persepsi masyarakat Dairi mengenai buku sebagai salah satu kebutuhan pokok dan sarana belajar sepanjang hayat.

Selain itu, dia berharap pihaknya bisa menyamakan persepsi dan gerak langkah dalam memotivasi masyarakat untuk membudayakan gemar membaca dalam kehidupan sehari-hari. Dia juga berupaya untuk mewujudkan perpustakaan sebagai wahana belajar mandiri yang lebih baik dan nyaman layaknya area rekreasi sehingga selalu dirindukan masyarakat. “Mari kita senantiasa menggalakkan gerakan nasional Gemar Membaca melalui pemberdayaan perpustakaan, baik di lingkungan keluarga, sekolah masyarakat, maupun pemerintah,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Perpusnas melakukan jalinan kerja sama dengan empat perguruan tinggi yakni Sekolah Tinggi Agama Islam Al Ikhlas Dairi, Sekolah Tinggi Teologi Oikumene Injili Sidikalang, Perpustakaan Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP, dan Institut Teknologi Del. Nota kesepahaman dijalin untuk meningkatkan hubungan kelembagaan di bidang pelayanan, pengembangan, dan pembinaan perpustakaan serta peningkatan kegemaran membaca dan indeks literasi. 
(YDH)