FAMILY

Cara Bantu Anak Mengatur Emosinya

Kumara Anggita
Rabu 09 Juni 2021 / 13:45
Jakarta: Anak-anak memiliki emosi yang kuat. Namun, usianya yang masih kecil dan kurang pengalaman membuat mereka jadi lebih sulit untuk memiliki regulasi emosi.

Di sini, peran orang tua dibutuhkan. Dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ (K), Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Konsultan Psikiatri Anak & Remaja RS Pondok Indah - Bintaro Jaya memiliki beberapa tips yang bisa diacu orang tua agar bisa membantu anak.
 

Berikut ini beberapa langkah untuk membantu anak memiliki regulasi emosi:


1. Kenali emosi/perasaan diri (name the feeling)
2. Kenali emosi/perasaan orang lain
3. Hadir dan dengarkan perasaan anak
4. Menanggapi dengan tepat apa yang menjadi kebutuhan anak
5. Tidak bereaksi negatif saat anak rewel atau marah
6. Be a role model
7. Senang bermain dengan anak dan tertarik dengan aktivitas anak
8. Ajarkan teknik-teknik relaksasi (emotional toolbox)


anak
(Dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ (K) dari RSPI mengatakan ledakan emosi pada anak harus diwaspadai apabila tantrum dan perilaku anak telah membuat distress atau kesulitan dalam keseharian keluarga. Foto: Dok. RSPI)


Namun demikian, terkadang anak-anak dapat mengalami emosi yang negatif, yang terkadang menjadi ledakan emosi. Sebenarnya hal ini dianggap wajar. Namun, ledakan emosi pada anak harus diwaspadai apabila:

- Tantrum dan ledakan (outbursts) terjadi pada tahapan usia perkembangan di mana seharusnya sudah tidak terjadi, yaitu di atas usia 7-8 tahun
- Perilaku anak sudah membahayakan dirinya atau orang lain
- Perilaku anak menimbulkan masalah serius di sekolah
- Perilaku anak memengaruhi kemampuannya bersosialisasi dengan teman, sehingga anak bisa dikucilkan oleh teman-temannya
- Tantrum dan perilaku anak telah membuat distress atau kesulitan dalam keseharian keluarga
- Saat anak merasa tidak mampu mengendalikan emosi marahnya dan merasa dirinya buruk
 

Ada beberapa faktor penyebab masalah emosi yang terjadi pada anak, antara lain:


- ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
- Kecemasan/anxiety
- Trauma 
- Kesulitan belajar
- Gangguan pemrosesan sensori (sensory processing issues)
- Spektrum autisme
- Sedikit mendapat kasih sayang dari keluarga maupun teman
- Terlalu terikat dengan satu figur yang dominan

“Kepercayaan terhadap orang tua dan model figur yang mereka amati dalam keluarga berperan dalam membentuk kepercayaan diri anak. Hal ini dapat membantu anak untuk meregulasi emosinya dan mendorongnya menjadi mandiri, serta berani mengambil risiko," kata dr. Anggia.

"Apabila si kecil memiliki karakter ini, maka diharapkan anak dapat berperilaku tepat dalam lingkungan sosialnya dan terhindar dari masalah penyesuaian diri dalam hidupnya,” tutup dr. Anggia.
(TIN)