FAMILY

Pentingnya Ajarkan Anak Berpikiran Kritis

Raka Lestari
Minggu 04 April 2021 / 11:00
Jakarta: Di era globalisasi seperti sekarang, anak-anak bisa dengan mudah mendapatkan berbagai macam informasi dari berbagai sumber manapun.

Meskipun demikian, tidak semua informasi tersebut bisa dipercaya atau diserap. Tetap saja diperlukan berpikir kritis untuk menerima berbagai informasi yang ada tersebut.

“Penting sekali untuk berpikir kritis. Ini bisa dimulai dari sekitar usia sekolah dasar (SD). Caranya dengan mempertanyakan apakah informasi yang kita terima itu betul atau salah, dengan cara membandingkan ke info-info lainnya,” tutur Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani.

Menurut psikolog yang akrab disapa Nina tersebut, berpikir kritis ini bisa dilakukan untuk informasi apapun yang didapat. 

“Misalnya kalau anak kelas 1 atau 2 SD, kita bisa ajak mempertanyakan apakah benar 3 ditambah 4 adalah 7? Caranya adalah dengan membuktikan kalau 3 apel ditambahkan 4 jeruk itu jumlahnya benar adalah 7,” ujarnya.

“Jadi bukan sekedar angka saja, atau dengan bertanya pada beberapa orang yang ternyata semua orang memang bilangnya 3 ditambah 4 adalah 7. Tetapi dengan membuktikan itu sendiri. Semakin besar anaknya, maka pendidikan kritis ini bisa dengan mempertimbangkan banyak informasi lain,” ujar Nina.

Ia menambahkan, “Misalnya, di masa remaja kalau mendapat informasi dari grup lain atau dari berita-berita lain apakah informasi tersebut benar atau tidak. Dengan anak bisa berpikir kritis, dia terbiasa mempertanyakan apakah sesuatu itu benar atau salah. Bukan sekedar menerima saja lalu jadi terpengaruh negatif,” jelas Nina.

“Pada dasarnya kita tidak bisa menihilkan paparan dari luar, apalagi saat ini ada media sosial. Medsos kan sulit dikontrol dan kita juga tidak tahu apa yang sebenarnya dibaca oleh anak-anak kita. Artinya, memang perlu ada pembatasan-pembatasan yang jelas,” tutur Nina.

Dengan adanya pembatasan-pembatasan tersebut, tentu akan berkurang risiko dampak negatif yang mungkin ditimbulkan dari adanya berbagai informasi yang ada di masyarakat. 

Salah satunya adalah pemahaman mengenai radikalisme yang jika dibiarkan, tentunya akan berdampak negatif dan bahkan bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.
(TIN)