FITNESS & HEALTH

Ini Kaitan antara Stroke dengan Depresi

Raka Lestari
Rabu 04 November 2020 / 18:00
Jakarta: Stroke terjadi ketika otak tidak mendapatkan suplai darah. Hal ini biasanya sering terjadi karena adanya gumpalan yang menghalangi aliran darah pada arteri.

Menurut penelitian terbaru, semakin tinggi seseorang menunjukan gejala depresi, maka semakin besar risiko untuk terkena stroke.

"Ada sejumlah faktor risiko yang umum untuk stroke, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung. Akan tetapi, kami mulai memahami bahwa ada juga faktor risiko non-tradisional, dan gejala depresi memliki kemungkinan yang cukup tinggi,” menurut salah satu penulis studi dari Virginia Howard, yang juga seorang profesor di School of Public Health di University of Alabama (UA) di Birmingham.

Dilansir dari WebMD, penelitian ini melibatkan lebih dari 9.500 orang kulit hitam. Dan lebih dari 14.500 orang kulit putih di seluruh Amerika Serikat yang berusia 45 tahun ke atas dan tidak memiliki riwayat stroke.

Setelah dilakukan penelitian lanjutan selama sembilan tahun, ada lebih dari 1.260 kasus stroke di antara para peserta. Dibandingkan dengan peserta tanpa gejala depresi, mereka yang memiliki gejala depresi memiliki peningkatan risiko stroke sebanyak 39 persen.

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neurology: Clinical Practice tersebut menemukan bahwa, ras seseorang tidak berpengaruh terhadap risiko seseorang untuk terkena stroke.

Salah satu tujuan studi ini adalah untuk menentukan apakah gejala depresi dapat membantu menjelaskan peningkatan terhadap risiko orang Amerika berkulit hitam untuk terkena stroke.
(FIR)