foto
 

    Sosok Sarah al-Amiri, Menteri Muda di Balik Misi UEA ke Mars

    12 Februari 2021 11:34 WIB
    Jakarta: Semasa kecil di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Sarah al-Amiri sudah terpesona kepada langit dan ruang angkasa. Tetapi saat itu negaranya masih lah tahunan cahaya dari mencapai bintang gemintang.

    Al-Amiri kecil tak lepas memandang citra-citra dari galaksi nun jauh di angkasa luar sana. Dia terpesona oleh bintang-bintang, tata surya, planet, semua objek di luar sana yang secara numerik tak bisa kita pahami. "Lebih-lebih lagi pada bagaimana ilmuwan menjelajahinya, baik dengan teleskop, pesawat ruang angkasa, maupun citra radio," katanya

    Al-Amiri, perempuan 34 tahun yang juga ibu dua anak yang salah satunya bocah berumur 11 tahun penggemar berat film 'Star Wars' itu, adalah Menteri Sains UEA, sekaligus Kepala Badan Antariksa Negara itu (UAESA) dan Majelis Ilmuwan UEA.

    Al-Amiri menjadi otak di balik misi luar angkasa Hope atau Al Amal yang sukses mencapai Mars 9 Februari lalu. Ketika Al Amal diluncurkan di Pusat Antariksa Tanegashima, Jepang, pada 20 Juli 2020, al-Amiri seketika menjadi pusat perhatian dunia.

    Perhatian kepada perempuan yang sejak kecil antusiastis kepada ruang angkasa itu kian besar manakala Al Amal sukses mencapai Planet Mars sehingga UEA menjadi negara kelima di dunia yang berhasil mencapai Planet Merah. UEA juga menjadi negara Arab pertama yang meluncurkan misi antarplanet.

    Keberhasilan Misi Mars itu tak hanya menguak lebih dalam siapa al-Amiri dan UEA, namun juga membangkitkan kembali romantisme Islam yang di masa lalu amat memuliakan sains, namun kini gaungnya tertutup oleh bisingnya ekstremisme dan puritanisme.

    Berhijab syar'i dan lulusan American University of Sharjah yang mendapatkan akreditasi dari Amerika Serikat, al-Amiri menjadi representasi utuh mengenai bagaimana UEA memuliakan wanita, kesetaraan, toleransi dan sains.

    Ada kisah menarik ketika tim al-Amiri yang 30 persennya wanita pertama kali bekerja untuk merancang dan membuat wahana antariksa ke Mars di Boulder, Colorodo, Amerika Serikat. Adalah cara berpakaian yang membuat mereka mencolok di mata rekan-rekannya dari AS saat itu.

    "Hijab kami saat itu membuat kami menjadi perhatian," kata Fatma Lootah, insinyur kimia yang mengerjakan spektrometer ultraviolet pada misi Mars UEA. Namun itu tak lama karena mereka segera menyatu dengan tim yang warni warni budaya dan keyakinannya.

    Mereka berbalik akrab bahkan di luar proyek sains. Mereka berbagi data dan diskusi setiap waktu. Pakaian dan perbedaan keyakinan tak bisa memupus hasrat bersama memuliakan sains sampai akhirnya Al Amal selesai untuk kemudian diluncurkan di Jepang pertengahan tahun lalu.

    Bukan kemewahan, bukan gimik

    Al-Amiri menyatakan bahwa misi Mars UEA tersebut telah menginspirasi bangsa dalam menatap masa depan dan menatap angkasa. Padahal resonansi inspirasi misi Al Amal jauh melewati UEA karena juga mendorong dunia Islam mendekati kembali sains.

    Misi Al Amal menjadi pesan amat kuat bagi dunia Muslim agar merangkul pendidikan dengan cara yang lebih fokus dan berorientasi pada inovasi, selain memicu kerja keras dunia Muslim guna mengambil kembali posisi unggul dalam penelitian dan inovasi ilmiah agar menempati lagi ruang yang dulu dimiliki umat Islam dalam pemajuan dunia.

    Negara-negara Muslim mesti mengikuti langkah UAE menggunakan sumber dayanya dengan lebih cermat dalam pendidikan, pembangunan dan kemajuan, ketimbang terus terlibat dalam pertengkaran politik dan aliran yang tak berujung yang tak saja mengeraskan perbedaan namun juga membuat tertinggal dari bagian dunia lainnya.

    Faktanya, seperti disebut jurnal Nature, demam ruang angkasa kini menyebar ke seantero kawasan. Arab Saudi dan Bahrain mengikuti UEA mendirikan badan antariksanya beberapa tahun lalu.

    Lalu awal 2020, UEA memimpin konsorsium 11 negara Arab untuk membuat satelit pengawas cuaca di Pusat Sains dan Teknologi Antariksa Nasional (NSSTC) di Universitas UEA.

    UEA bahkan ambil bagian dalam proyek kolonisasi Mars pada 2117. Tapi sebelum ke situ, mereka berambisi memancangkan dulu tonggak penting dengan mendaratkan manusia di Bulan pada 2024.

    Tetapi bagi UEA yang berambisi membentuk generasi yang mampu merancang dan membuat misi ruang angkasanya sendiri, ambisi antariksa bukanlah demi gengsi, melainkan tuntutan alamiah bagi bangsa yang dipaksa memikirkan alternatif dan skenario masa depan di mana minyak tak bisa lagi ditambang.

    "Bagi kami, ini bukan kemewahan. Ini bukan gimik. Ini kebutuhan mutlak dalam mengembangkan keterampilan dan kemampuan serta pembangunan sebuah bangsa secara keseluruhan," kata al-Amiri.

    Sungguh pandangan jauh ke depan yang amat berani dari negara kecil nan kaya raya yang patut diadopsi siapa pun, termasuk oleh Indonesia yang sejak 1963 sudah memiliki LAPAN. AFP PHOTO/Giuseppe Cacace/Mitsubishi Heavy Industries

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id