foto
 

    Potret Kisah Inspiratif Binaraga Perempuan dengan Satu Kaki dari Tiongkok

    07 Januari 2021 18:15 WIB
    Beijing: Gui Yuna berlinang air mata saat menceritakan peristiwa hilangnya kaki kanannya akibat kecelakaan di jalan raya saat berusia tujuh tahun. Dia juga bercerita bagaimana pedihnya saat mendapat rundungan dari teman-teman sekolah dan para pengganggu sekolah menendang tongkatnya untuk membuatnya jatuh.

    Tetapi sekarang mereka tidak akan berani melakukannya. Perempuan berusia 35 tahun itu merupakan juara binaraga dan mantan Paralympian yang kisah inspirasinya menjadi viral di Tiongkok.

    Gui, yang berkompetisi dalam cabang lompat jauh di Paralimpiade Athena 2004, belum lama mengenal binaraga, tetapi langsung juara saat pertama kali ikut berkompetisi pada Oktober 2020 silam.

    Gambar dia menginjak panggung dengan sepatu hak tinggi dan bikini sambil bersandar pada kruknya, ditampilkan secara luas di media Tiongkok dan membuatnya mendapatkan pengikut di media sosial yang cukup besar.

    Dengan tekad baja dan sikap positifnya, ia dianggap sebagai inspirasi di negara  tersebut, di mana para penyandang disabilitas terlalu sering terpinggirkan.

    "Mungkin saja saya memenangkan kejuaraan tersebut bukan karena profesionalisme atau otot saya, tetapi karena kepercayaan diri dan keberanian saya untuk berdiri di atas panggung dan menunjukkan diri saya kepada semua orang," kata Gui.

    Dia berbicara setelah latihan intensif di gym Shanghai, sesi yang secara teratur dia posting ke 200.000 pengikutnya di TikTok.

    Kucing Berkaki Tiga 

    Gui hampir tidak memiliki ingatan tentang hari saat dia ditabrak truk ketika pulang dari sekolah.

    Tapi dia tidak bisa melupakan saat sebagai seorang anak perempuan hanya dengan satu kaki diejek rekan-rekannya di sekolah. Seringkali mereka menyiksanya dengan menendang tongkatnya atau menarik kursinya saat dia duduk.

    "Mereka memanggilku kucing pincang atau kucing berkaki tiga," kata Gui sambil berlinang air mata, mengenang peristiwa yang terjadi hampir tiga dekade lalu. 

    "Seringkali saya mendapat ejekan dengan bahasa yang kasar dan terkadang kekerasan fisik. Pertama kali mereka membuat saya jatuh, saya menangis, tetapi kemudian saya terbiasa dan saya berpikir: Anda dapat menindas saya sesuka Anda, tetapi saya akan baik-baik saja karena saya memiliki hati yang berani."

    Gui, yang berasal dari kota selatan Nanning, dibesarkan oleh ibunya karena ayahnya meninggal sebelum dia lahir.

    Dengan berjalannya waktu, Gui kemudian bangkit dan pada 2001 ia terlibat dalam olahraga paralimpik, kemudian mewakili Tiongkok di Olimpiade 2004, finis ketujuh dalam kategori lompat jauh.

    Dia juga melakukan lompat tinggi dan kemudian memanah, dan ikut serta dalam estafet obor untuk Olimpiade Musim Panas dan Paralimpiade Beijing 2008.

    Setelah pensiun dari kompetisi pada 2017, Gui mengalami lebih banyak diskriminasi di dunia kerja. Dia ditolak oleh pemberi kerja yang mengatakan bahwa dia tidak sesuai dengan 'image'.

    "(Mereka) menyiratkan bahwa saya akan menodai citra mereka," katanya. "Saya melamar hampir 20 perusahaan dan mereka semua mengatakan hal yang sama."

    Dan sementara banyak media sosial memujinya setelah debut di binaraga, di mana dia mengenakan gaun qipao leher tinggi tradisional dan mengalahkan saingannya yang sehat, ada beberapa suara tidak setuju yang menyuruhnya untuk tinggal di rumah.

    Kadang-kadang orang di jalan bertanya kepada Gui apa yang terjadi dengan kaki kanannya, dan dia terkejut bahwa kehilangan anggota tubuh adalah hal yang biasa. AFP PHOTO/Noel Celis

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id