foto
 

    Foto: Sulitnya Warga Myanmar Dapatkan Pasokan Oksigen

    15 Juli 2021 10:54 WIB
    Yangon: Warga di seluruh kota terbesar Myanmar menentang jam malam militer dalam upaya putus asa mencari pasokan oksigen untuk menjaga orang yang mereka cintai tetap bernapas ketika gelombang virus korona baru menerjang negara yang dilanda kudeta itu.

    Lonjakan kasus covid-19 merupakan pukulan terbaru bagi Myanmar, yang sudah menderita akibat kudeta Februari lalu dan tindakan keras berdarah terhadap perbedaan pendapat yang telah menewaskan lebih dari 900 orang dan menghancurkan perekonomian negara tersebut.

    Ratusan orang mengantre melintasi Yangon saat matahari terbit pada Rabu, 14 Juli 2021, dengan harapan dapat mengisi ulang tabung oksigen biru untuk dibawa pulang untuk anggota keluarga mereka yang terkena virus korona.

    Beberapa di antara mereka telah mempersiapkan diri dengan membawa kursi dan bersiap untuk menunggu lama.
     Sementara bagi yang lain sudah terlambat waktunya. 

    "Adik saya menderita covid-19 selama tiga hari," kata Than Zaw Win, saat meninggalkan salah satu antrean di kota berpenduduk sekitar 7 juta itu.

    "Pada hari pertama dia pusing karena tekanan (darah) rendah... dan kemarin dia sangat menderita karena tidak bisa bernapas dengan baik. Tetapi ketika saya sedang mengantri untuk mengisi oksigen pagi ini, keponakan saya memanggil saya untuk pulang karena saudara perempuan saya telah meninggal."

    Pihak berwenang mencatat lebih dari 7 ribu kasus baru pada hari Rabu - dibandingkan dengan kurang dari 50 per hari pada awal Mei.

    Jutaan orang di Yangon dan kota kedua Mandalay telah diperintahkan untuk tinggal di rumah, tetapi jumlah korban terus meningkat dan tim sukarelawan turun tangan untuk mengeluarkan jenazah korban dari lingkungan mereka.

    Ye Kyaw Moe, seorang pelaut, mengatakan dia menyelinap keluar pada pukul 03.00 dini hari -- setengah jam sebelum pencabutan jam malam yang diberlakukan militer -- untuk mendapatkan tempat mengantre mendapatkan oksigen. 

    Tetapi ketika dia tiba di pusat isi ulang di Yangon, sudah ada 14 orang lain di depannya. "Saya belum tidur sepanjang malam," katanya. "Saya juga harus berhati-hati untuk menghindari tentara karena kita masih di bawah darurat militer."

    Dewan Administrasi Negara -- begitu junta menyebut mereka -- mengatakan tidak perlu khawatir. "Sebenarnya kami memiliki cukup Oksigen," demikian judul berita utama di Global New Light of Myanmar hari Selasa, sebuah surat kabar yang didukung negara.

    "Rakyat tidak perlu terlalu khawatir tentang hal itu dan tidak seharusnya menyebarkan desas-desus," kata pemimpin junta Min Aung Hlaing seperti dikutip.

    Tapi Than Zaw Win tidak setuju dengan pendapat Min Aung Hlaing. "Dia tidak memiliki penyakit lain... Tidak mungkin saudara perempuan saya meninggal jika kami memiliki cukup oksigen," katanya. AFP PHOTO/Ye Aung Thu

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id