foto
 

    Bentrok Pemrotes dengan Polisi Tunisia Berlanjut

    20 Januari 2021 08:33 WIB
    Tunis: Bentrokan keras meletus untuk malam kelima pada Selasa, 19 Januari 2021 waktu setempat antara polisi dan pengunjuk rasa di beberapa kota Tunisia, termasuk Ibu Kota Tunis dan Sidi Bouzid, tempat lahirnya pemberontakan Musim Semi Arab (Arab Spring).

    Sebelumnya, pendemo berunjuk rasa di Tunis menghidupkan kembali nyanyian yang bergema satu dekade lalu dalam revolusi yang mengantarkan demokrasi: 'Rakyat menginginkan rezim jatuh'.

    Di Sidi Bouzid, tempat revolusi 2011 dimulai, para saksi mata mengatakan bahwa polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa yang mengangkat slogan-slogan menentang penguasa dan menuntut diakhirinya beberapa dekade marginalisasi (menjauhnya masyarakat dari elite).

    Bentrokan juga terjadi di daerah miskin di Tunis, termasuk Ettadhamen dan Sijoumi, saat ratusan pemuda yang marah membakar ban dan memblokir jalan.

    Protes siang hari dalam beberapa hari terakhir yang menuntut pekerjaan, martabat, dan pembebasan tahanan telah diikuti oleh kekerasan malam hari, dengan pembatasan covid-19 yang memperparah kemandekan ekonomi yang lebih luas.

    "Seluruh sistem harus berjalan ... Kami akan kembali ke jalan dan kami akan mendapatkan kembali hak dan martabat kami yang direbut oleh elite korup setelah revolusi," kata Maher Abid, seorang pengunjuk rasa yang menganggur.

    Sesaat sebelum peringatan 10 tahun revolusi minggu lalu, pemerintah Perdana Menteri Hichem Mechichi memerintahkan lockdown selama empat hari dan jam malam yang lebih ketat terhadap pandemi virus korona, serta larangan protes.

    Namun, di kota-kota di seluruh negara Afrika Utara, para pemuda telah melemparkan batu dan bom bensin, membakar ban dan menjarah toko-toko sementara polisi telah mengerahkan gas air mata dan pentungan, menangkap ratusan orang.

    Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa, Mechichi mengatakan dia memahami kemarahan rakyat atas situasi ekonomi dan frustrasi kaum muda, tetapi kekerasan itu tidak dapat diterima.

    "Suaramu didengar dan amarahmu sah ... Jangan biarkan penyabot di antara kamu," katanya, berbicara kepada pengunjuk rasa.

    Penggulingan penguasa otokratis Tunisia yang sudah lama menjabat pada tahun 2011 menginspirasi pemberontakan serupa di seluruh Afrika Utara dan Timur Tengah yang dijuluki 'Arab Spring'. AFP PHOTO/Fethi Belaid

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id