foto
 

    Anti-Kudeta Militer Myanmar Jadikan Telur Paskah Simbol Pembangkangan

    05 April 2021 12:45 WIB
    Jakarta: Penentang junta militer di Myanmar menjadikan telur Paskah sebagai simbol pembangkangan pada Minggu, 4 April 2021. Mereka mengunggah gambar telur dengan beberapa slogan setelah malam penyalaan lilin di seluruh negeri untuk mengenang mereka yang terbunuh sejak kudeta 1 Februari.

    Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah kelompok aktivis yang memantau korban dan penangkapan sejak militer menggulingkan peraih Nobel Aung San Suu Kyi dari pemerintahan terpilih, mengatakan jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 557 orang.

    Bertepatan dengan Minggu Paskah, puluhan pengunjuk rasa Myanmar menghiasi telur dengan pesan politik dan meninggalkannya di depan pintu tetangga dan digantung di tas di gerbang depan.

     Gambar yang diposting di media sosial menunjukkan telur yang dihiasi dengan wajah yang mirip dengan Suu Kyi dan penghormatan tiga jari - simbol perlawanan - sementara yang lain mengatakan 'selamatkan rakyat kami' dan 'demokrasi'.

    "Saya beragama Buddha tetapi saya telah bergabung dengan kampanye ini karena mudah untuk mendapatkan telur. Saya menghabiskan hampir satu jam menghias telur saya," kata seorang dekorator telur yang berbasis di Yangon. "Saya berdoa agar situasi Myanmar saat ini kembali ke demokrasi."

    Satu grup Facebook yang mempromosikan protes telur mendesak orang-orang untuk menghormati tradisi Kristen pada Minggu Paskah.

    Tokoh Katolik paling senior Myanmar, Kardinal Charles Bo, memposting pesan Paskah di Twitter: "Yesus telah bangkit: Haleluya - Myanmar akan bangkit kembali!"

    Pengunjuk rasa juga turun ke jalan-jalan di hari Minggu Mandalay, dengan beberapa membawa bendera dan mengendarai sepeda motor. 

    Demonstrasi terjadi setelah empat pengunjuk rasa tewas pada Sabtu, 3 April 2021 di kota Bago dan Monywa.

    Di Kota Pyay di wilayah Bago, orang-orang menempelkan foto anak-anak Myanmar yang terbunuh sejak awal Februari di papan reklame kota dan di pagar di sekitar lingkungan.

    Seorang pengunjuk rasa berusia 30 tahun tewas pada Minggu dini hari di sebuah kota kecil di negara bagian Kachin.
     
    "Mereka menembaknya di pinggir jalan. Dia terluka dan meninggal kemudian. Mereka membawa mayatnya pagi ini pada pukul 6 pagi," kata seorang saksi mata. AFP PHOTO

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id