foto
 

    Sang Pacar Tato Wajah Mya Thwate, Perempuan yang Tewas Ditembak Tentara Myanmar

    24 Februari 2021 19:55 WIB
    Naypyidaw: Kesedihan mendalam dirasakan oleh orang-orang yang dekat dengan Mya Thwate Thwate Khaing, pengunjuk rasa yang kepalanya tertembak peluru pasukan keamanan Myanmar, dan meninggal dunia pada Jumat, 19 Februari 2021 lalu.

    Bukan hanya orang tuanya, duka juga dirasakan oleh sang pacar Hein Yar Zar. Dia sangat merasa kehilangan atas kepergian perempuan muda tersebut untuk selama-lamanya.

    Untuk mengenang cintanya kepada Mya Thwate Thwate Khaing, Hein Yar Zar membuat tato bergambar wajah perempuan berusia 20 tahun itu di dada sebelah kirinya.

    Seperti diketahui, Mya Thwate Thwate Khaing, meninggal setelah sempat menjalani perawatan dengan dukungan alat penunjang hidup selama 10 hari sejak ia ditembak oleh polisi, yang menindak para pengunjuk rasa damai yang menentang kudeta militer Myanmar.

    Sebagai korban pertama dalam protes terbesar di Myanmar selama lebih dari satu dekade, kematian Mya Thwate Thwate Khaing telah memicu kemarahan di seluruh negeri dan meningkatkan gejolak atas penggulingan pemerintahan sipil pada 1 Februari lalu.

    Banyak anggota gerakan anti kudeta yang selama dua minggu berdemonstrasi di seluruh Myanmar adalah dari Generasi Z, sama dengan Mya Thwate Thwate Khaing. Ketika ditembak, Mya adalah seorang pekerja toko bahan makanan yang masih remaja. Saat berada dalam perawatan intensif, ia berusia 20 tahun.

    Penembakan itu memicu ingatan akan penindasan berdarah terhadap pemberontakan melawan pemerintahan militer brutal selama setengah abad. Selama masa perlawanan itu, ribuan orang terbunuh dan banyak lagi yang dijebloskan ke penjara selama bertahun-tahun.

    Beberapa jam setelah penembakan, video dan gambar menjadi viral di media sosial saat Mya Thwate Thwate Khaing, yang mengenakan helm sepeda motor dan kaos merah, ambruk dengan punggung menghadap ke polisi, yang menyiram kerumunan dengan meriam air.

    Pada hari-hari berikutnya, massa berunjuk rasa sambil memegang foto diri Mya Thwate Thwate Khaing sambil menyerukan kediktatoran diakhiri. Sehari setelah penembakan, mereka menggantung foto pertama dari beberapa potret besar perempuan tersebut dari sebuah jembatan di pusat kota Yangon, dengan spanduk bertuliskan 'Mari bersama-sama melawan diktator yang membunuh rakyat'.

    "Menembak pengunjuk rasa yang damai dengan peluru tajam adalah hal yang tidak bisa dimaafkan dalam masyarakat kita," kata seorang dokter yang merupakan bagian dari tim yang merawat Mya Thwate Thwate Khaing.

    Dokter itu mengatakan bahwa cerita Mya Thwate Thwate Khaing telah mendorong gerakan pembangkangan sipil di Myanmar, yang antara lain diikuti oleh kalangan tenaga medis. AFP PHOTO

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id