foto
 

    Sejarah! Trump Dimakzulkan untuk Kedua Kalinya

    14 Januari 2021 08:13 WIB
    Washington: Donald Trump menjadi Presiden AS pertama dalam sejarah yang dimakzulkan dua kali oleh House of Representatives (HOR) atau DPR AS. Trump kembali dimakzulkan karena dituduh menghasut pemberontakan disertai serangan massa pendukungnya ke gedung parlemen, Capitol Hill, Rabu, 6 Januari 2021 lalu.

    "Hari ini, dengan cara bipartisan, DPR menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang berada di atas hukum, bahkan Presiden Amerika Serikat," kata Ketua DPR Nancy Pelosi.

    Senat tidak akan mengadakan persidangan sebelum 20 Januari, saat calon Demokrat Joe Biden mengambil alih kursi presiden, yang berarti taipan real estat, Trump akan lolos dari aib karena dipaksa pergi lebih awal.

    Trump, bagaimanapun, akan menghadapi persidangan Senat nanti dan jika terbukti dia mungkin akan dilarang dalam pemungutan suara lanjutan untuk pemilihan presiden lagi pada 2024.

    "Donald Trump pantas menjadi presiden pertama dalam sejarah Amerika yang menanggung noda impeachment dua kali," kata Senator Demokrat Chuck Schumer, yang dalam waktu seminggu akan menjadi pemimpin Senat. "Senat diharuskan untuk bertindak dan akan melanjutkan persidangannya."

    Di DPR, satu-satunya pertanyaan adalah berapa banyak anggota Partai Republik yang akan bergabung dengan mayoritas Demokrat dalam suara 232-197. Pada penghitungan akhir, 10 politikus Republik sepakat membelot.

    "Saya benar-benar damai hari ini bahwa suara saya adalah hal yang benar dan saya benar-benar berpikir sejarah akan menilai seperti itu," kata Adam Kinzinger, seorang kritikus vokal Trump, dan salah satu anggota Partai Republik yang membelot.

    Bersembunyi di Gedung Putih, Trump mengeluarkan pidato yang direkam dengan video di mana dia tidak menyebutkan pemakzulan atau upayanya untuk membujuk setengah negara agar percaya bahwa kemenangan Biden adalah penipuan.

    Sebaliknya, komentar tersebut berfokus pada seruan agar orang Amerika bersatu untuk menghindari kekerasan. "Tidak pernah ada pembenaran untuk kekerasan. Tidak ada alasan, tidak ada pengecualian: Amerika adalah negara hukum," kata Trump.

    Tetapi setelah kekacauan yang dilakukan oleh para pengikutnya ketika mereka menginvasi Kongres, ketakutan akan kekerasan semakin tinggi.

    Pengawal Nasional Bersenjata ditempatkan di seluruh ibu kota, sementara jalan-jalan nasionaol diblokir untuk lalu lintas. Di gedung Capitol sendiri, petugas berjaga-jaga dengan membawa senapan serbu. AFP PHOTO/Stefani Reynolds/Brendan Smialowski

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id