grafis
 

    Amankah Vaksinasi pada Pasien Kanker?

    17 Februari 2021 09:46 WIB
    KABAR dibolehkannya pasien kanker untuk mendapatkan vaksin covid-19 sampai juga ke telinga Ndari, 52. Ia yang hingga kini masih menjalani pengobatan kanker payudara, termasuk kelompok rentan terpapar covid-19.

    Pekan lalu, Ndari menemui dokter onkologi yang menanganinya dan menanyakan apakah benar vaksin covid-19 untuk pasien kanker, seperti dirinya, aman untuk dilakukan?

    “Dokterku tidak kasih izin divaksin covid-19 sampai April 2021. Di suruh menunggu sampai selesai benar uji klinis vaksin Sinovac yang di Unpad Maret nanti. Jadi, aku dengerin dokterku aja,” ujar Ndari kepada Media Indonesia, Selasa, 16 Februari 2021.

    Ndari pun manut apa kata dokternya. Ia menyadari bahwa dokter ialah orang yang yang mengerti kondisi kesehatan pasiennya. Sambil menunggu hasil uji klinis Sinovac di Indonesia rampung, Ndari tetap menjalani protokol kesehatan seperti yang selama ini dilakukannya dan terus berdoa untuk menguatkan imun.

    “Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, tidak berbagi barang dengan orang lain misal membawa bekal. Kalau belanja, aku tetap keluar seperlunya. Keluar cuma ke dokter, ATM, sama belanja,” tuturnya.

    Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) Cabang Jakarta,dr Ronald A Hukom, mengamini persetujuan dokter ialah penting dalam menentukan vaksinasi covid-19 pada pasien kanker.

    “Pasien kanker (atau dengan riwayat kanker) baru bisa mendapatkan vaksin berdasarkan sejumlah parameter, seperti data vaksin, jenis kanker yang diderita, apakah masih dalam perawatan untuk kanker, dan kepastian bahwa sistem kekebalan tubuhnya bekerja dengan baik. Karena itu, sebaiknya bicarakan dengan dokter onkologi/ internis sebelum mendapatkan jenis vaksin apa pun,” tegas dr Ronald Dalam webinar vaksinasi covid-19 pada pasien/penyintas kanker: Haruskah atau Jangan? kemarin.

    Pada dasarnya, kata Ronald, vaksin covid-19 aman bagi pasien kanker dan penyintas apabila vaksin yang digunakan untuk vaksinasi covid-19 bukan vaksin hidup. 

    Tinggi
    Sebelumnya, Ketua Umum Persatuan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi) Walta Gautama mendorong vaksinasi covid-19 kepada pasien kanker padat menjadi prioritas karena tingginya angka kematian.

    “Di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta sebagai pusat kanker nasional, dalam setahun masa pandemi ini tercatat 359 pasien kanker dirawat dengan kasus covid-19. Dari jumlah itu, tercatat kasus kematian sebanyak 23%,” ungkap Walta yang juga Kepala Instalasi Kamar Bedah RS Kanker Dharmais Jakarta tersebut, Rabu, 10 Februari 2021.

    Ronald mengamini pasien dengan tumor padat mengalami peningkatan risiko, terutama pada tahun pertama setelah diagnosis yang turun, mendekati orang normal jika diagnosis di bawah 5 tahun sebelumnya.

    Di sisi lain, kata Ronald, vaksinasi mungkin kurang efektif pada pasien yang menerima antibodi antisel B atau kemoterapi intensif, misalnya kemoterapi induksi atau konsolidasi untuk leukemia akut. Sebab respons antibodi mungkin rendah, akibat deplesisel B meskipun peran dan efek perlindungan potensial dari imunitas sel-T jugabelum dipelajari secara ekstensif.

    “Pengawasan dan pemantauan ketat terhadap pasien kanker diperlukan setelah vaksinasi covid-19 untuk menilai potensi kejadian buruk,” tandasnya. Dok.MI

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id