grafis
 

    Tangar Tiga Varian SARS-CoV-2

    20 Januari 2021 11:15 WIB
    PENINGKATAN kasus di wilayah Kent, Inggris, selama lockdown pada November 2020 memantik kecurigaan otoritas kesehatan setempat. Public Health England melakukan investigasi dan menemukan klaster kasus yang disebabkan varian baru virus yang bermutasi. Ketika mereka melakukan genome sequencing, diketahui virus itu pertama kali muncul di Kent pada 20 September dan diikuti dengan kasus serupa di Kota London. Varian virus baru di Inggris itu diketahui sangat menular hingga sejumlah negara menutup perbatasan dengan Inggris.

    Varian baru covid-19 muncul sebagai bagian dari siklus hidup virus tersebut dan akan muncul seiring waktu karena virus terus berubah melalui mutasi. Pakar biologi mulekuler, Dr Riza Arief  Putranto, memaparkan tiga varian baru SARS-Cov-2 di dunia telah menarik perhatian para ilmuwan. Varian tersebut ialah varian B.1.1.7 asal Inggris, varian B.1.351 asal Afrika Selatan, dan varian B.1.1.28 asal Brasil (terutama subvarian P1).

    “Pentingnya memahami kenapa bisa muncul varian dengan mutasi majemuk (banyak mutasi sekaligus dalam 1 varian). Kasus tinggi; peluang mutasi tinggi dan kasus naik; peluang mutasi naik,” kata Riza dikutip dari media sosialnya, Selasa, 19 Januari 2021.

    Riza menjelaskan, pada umumnya, mutasi di satu daerah dan terbawa keluar daerah tersebut dan merebak di daerah lain. Proses ini selama terlihat pada SARS-CoV-2. Namun, varian baru yang muncul dari tiga negara, yakni Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil tidak terjadi karena founder effect, tetapi hipotesisnya akibat seleksi alam.

    “Ini terjadi karena variannya tetiba muncul dari satu daerah tanpa adanya kasus impor. Varian berkembang secara lokal (endemi),” sebutnya.

    Menurutnya, penyebaran virus masih terjadi di Manaus Brasil oleh subvar baru P1 meski 76% populasi sudah terinfeksi varian sebelumnya. Oleh karena itu, ia menyimpulkan semakin banyak penyebarannya, semakin besar kemungkinannya untuk bermutasi, dan semakin besar kemungkinan mutasi akan memengaruhi vaksin saat ini.

    Peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI Sugiyono Saputra mengungkapkan perbedaan varian baru SARS-CoV-2 dengan varian sebelumnya ialah pada banyak tidaknya mutasi pada nukleotida (materi genetik) yang terjadi sehingga membentuk klaster atau lineage tersendiri.

    Ia menjelaskan, mutasi yang terjadi pada spike protein ini akan berefek pada receptor binding yang bertanggung jawab terhadap kemudahan masuknya partikel virus ke dalam sel inang sehingga lebih mudah menginfeksi. Varian SARS-CoV-2 yang berasal dari Inggris ini dinilai 70% lebih mudah menular jika dibandingkan dengan varian yang pernah muncul sebelumnya.

    Belum masuk Indonesia

    Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Ardiana Kusumaningrum menyatakan, sampai saat ini belum ada virus mutasi corona strain Inggris yang dinamai varian VOC202012/01 ditemukan di Indonesia.

    “Belum menemukan mutasi korona dari Inggirs atau Afrika Selatan itu di Indonesia,” ungkap Arum pada webinar RSUI bertajuk COVID-19 update: Kondisi Terkini dan Vaksinasi, Jumat, 15 Januari 2021.

    Hal ini, menurutnya, berdasarkan diagnosis molekuler PCR dengan melakukan sequensing. “Secara prinsip kita akan mengetahui susunan dari asam nukleat yang membentuk virus tersebut,” kata dia.

    Menurut Arum, sampai saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang menyatakan bahwa mutasi baru membuat virus SARS-COV-2 lebih ganas atau menyebabkan sakit yang berat.

    Namun, lanjutnya, varian baru lebih cepat menular. Untuk varian yang ditemukan di Inggis laju percepatannya 50-74% lebih cepat jika dibanding dengan varian sebelumnya, sedangkan varian baru Afrika Selatan antara 2-3 kali lebih cepat.

    Penularan virus yang tidak dihambat ini akan meningkatkan peluang mutasi lain karena mutasi akan terjadi setiap virus masuk ke tubuh manusia. Dok.MI

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id