grafis
 

    Menyoal Kemanjuran Vaksin Covid-19

    06 Januari 2021 09:18 WIB
    Pada Agustus 2020, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjalani penyuntikan percobaan vaksin covid-19 buatan Sinovac di Puskesmas Garuda, Kota Bandung. Vaksin mengandung virus yang sudah dilemahkan (inactivated) itu disuntikkan di lengan kiri Kang Emil, demikian ia biasa disapa.

    Selama 5 menit, Kang Emil merasakan pegal, cenat-cenut, dan mati rasa di sepanjang tangan kirinya. Namun setelahnya, kondisi kembali normal.

    “Alhamdulillah normal, hanya jadi rada mengantuk dan lapar yang tidak biasanya,” kicaunya di laman Instagram.

    Penyuntikan vaksin kedua telah dilakukan pada Desember 2020 lalu dan menunggu kesimpulan pemerintah pusat apakah vaksin ini layak diproduksi atau tidak. Bersyukur, selama menjalani uji coba vaksin covid-19 itu Kang Emil mengaku kondisinya sehat.

    Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Dr dr Yulia Sofi atin SpPD menyampaikan, vaksin covid-19 menjadi harapan untuk mendorong tubuh menciptakan antibodi sehingga mampu melawan serangan virus korona.

    Pasalnya, antibodi terhadap covid19 hanya bertahan 3-4 bulan pada orang yang sudah sembuh. Karena itu, terjadi beberapa reinfeksi atau orang yang sudah sembuh kemudian sakit lagi. Hal itu didapat dari dua studi terakhir.

    Ia menegaskan vaksin dinyatakan aman jika tidak ada efek samping, atau efek sampingnya ringan, tidak ada kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), atau KIPI yang ringan seperti demam dan nyeri.

    “Keamanan vaksin dapat dilihat pada laporan uji klinis fase 1 dan 2. Tanpa bukti hasil uji klinis fase 1 dan 2 yang baik, maka uji klinis fase 3 tidak dapat dilaksanakan,” kata Yulia dalam keterangan resmi, Jumat, 1 Januari 2021.

    Artinya, sambung Yulia, jika sebuah vaksin sedang atau akan menjalani uji klinis fase 3, seperti vaksin Sinovac di Bandung yang melibatkan lebih dari 1.600 relawan, dapat diduga bahwa vaksin tersebut terbukti aman.

    Menurut anggota tim uji klinis vaksin covid-19 Unpad itu, uji klinis fase 3 akan memastikan berapa banyak orang yang mendapat vaksin akan terkena penyakit covid-19 jika dibandingkan dengan orang yang mendapat plasebo (vaksin kosong).

    “Jika mereka yang mendapat vaksin covid-19 jauh lebih sedikit mengalami sakit dibandingkan dengan mereka yang mendapat vaksin kosong dan secara statistik perbedaannya signifi kan, maka vaksin tersebut efektif dalam situasi penelitian. Efektivitas dalam masyarakat umum masih harus dibuktikan lebih lanjut,” lanjut Yulia.

    Ia menyatakan, jika vaksin yang diuji saat ini hanya mampu melindungi kita selama, misalnya 3 bulan dengan efikasi (kemanjuran) yang tinggi, maka tetap akan lebih baik mendapat vaksin daripada tidak mendapat vaksin.

    Hoaks

    Sementara itu, sebuah informasi viral di media sosial yang mengutip sebuah jurnal menyebutkan bahwa vaksin covid-19 mampu membesarkan alat kelamin pria hingga 20%. Prof Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, guru besar pada Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-Rumah Sakit  Cipto Mangunkusumo, menyatakan bahwa itu tidak benar.

    “Itu hoaks, sampai sekarang tidak ada informasi mengenai efek samping tersebut,” kata Ari kepada Media Indonesia, Senin, 4 Januari 2021.

    Sejumlah laman pencari fakta juga menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar. ‘Selain dari kasus pasien dengan riwayat reaksi alergi dan tidak ada efek tersebut yang berhubungan dengan pembesaran penis’, tulis dubawa.org dan
    pesacheck.org. Dok.MI

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id