grafis
 

    Cegah Perburukan Penyakit Kronis

    28 Juli 2021 08:05 WIB
    SEORANG pasien jantung dan hipertensi berusia 58 tahun di Kelurahan Mojayan, Klaten, Jawa Tengah, meninggal dunia di mobil pribadinya saat hendak kontrol ke rumah sakit. Korban meninggal karena tidak segera mendapatkan perawatan di rumah sakit.

    Beralihnya layanan kesehatan menjadi rujukan covid-19 mengorbankan hak pasien dengan penyakit kronis, seperti jantung, hipertensi, kanker, diabetes, dan ginjal. Mereka yang masuk ke kelompok rentan tertular covid-19 ini perlu mendapatkan perhatian khusus.

    Sebab, banyak pasien katastropik noncovid yang mengalami perburukan akibat tak kunjung melakukan kontrol atau perawatan lanjutan.

    “Penyakit jantung saat ini mungkin banyak yang kambuh di rumah. Seminggu terakhir ini saya mendapatkan pasien serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan sumbatan pembuluh darah datang dalam keadaan sudah berat dan parah,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Vito Damay, SpJP, FIHA, FICA, FAsCC kepada Media Indonesia, Selasa, 27 Juli 2021.

    Untuk hari ini saja, imbuhnya, dia menangani 4 pasien serangan jantung, 2 pasien post covid (long covid), 1 pasien covid aktif, dan 1 lagi pasien jantung dengan PCR negatif.

    Sebagai pencegahan, Vito menyarankan pasien yang memiliki penyakit kronis agar melakukan kontrol rutin guna mengecek hipertensi yang kerap jadi pemicu. Selain itu, pasien juga mengelola kolesterol dengan menjaga berat badan ideal, kontrol gula darah, dan minum obat teratur. “Kalau belum bisa datang kontrol, bisa dengan telemedicine dulu,” ungkapnya.

    Upaya preventif ini dapat mencegah kambuhnya penyakit yang berpotensi memicu serangan jantung, stroke, gagal ginjal akut, atau sumbatan pembuluh darah.

    Komorbid
    Dokter Vito menjelaskan, pasien dengan penyakit tidak menular (PTM) kronis seperti jantung memiliki risiko komorbid (penyakit penyerta) yang bisa memperburuk keadaannya ketika  terinfeksi covid-19. Dengan mengurangi atau mengontrol risiko, risiko covid-19 berat dan kebutuhan ICU atau ventilator bisa dikurangi.

    Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) dr Isman Firdaus, Sp.JP(K) menyampaikan bahwa penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu di dunia juga di Indonesia. Selama pandemi ini, mereka tidak terlayani dengan baik akibat penuhnya RS karena pasien covid-19.

    Sebagai pencegahan, ia menyerukan kepada pasien kardiovaskular dan jantung untuk tetap rutin minum obat dan segera divaksin. “Tidak usah khawatir untuk menerima vaksin, baik yang sudah pasang ring maupun bypass. Minum obat, hindari keramaian, tidak ke rumah sakit dulu kecuali terpaksa jika ada debar jantung yang hebat. Gunakan telemedicine,” ujarnya.

    Ia juga mengatakan kejadian penggumpalan darah pada penerima vaksin Astra Zeneca jumlahnya hanya sedikit. Dalam catatan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, pembiayaan jaminan kesehatan nasional (JKN) pada 2020 untuk 8 penyakit kronis berbiaya tinggi (katasropik) mencapai Rp17,8 triliun. Penyakit jantung berada di peringkat teratas sejumlah 11,5 juta kasus dan menyerap anggaran lebih dari Rp8,2 triliun.

    Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti pun berharap penyandang penyakit kronis dapat mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan covid-19. Dok Media Indonesia

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id