grafis
 

    Bergerak Bersama Atasi Kasus di Jawa

    04 Juni 2021 10:13 WIB
    ENAM provinsi di Pulau Jawa telah menyumbang 53% kasus nasional covid-19 selama sepekan terakhir di periode 24-30 Mei 2021. Untuk mengatasinya, penanganan yang serius sangat dibutuhkan. 

    “Penanganan pandemi covid-19 di Pulau Jawa harus dilakukan secara serius dan bersama-sama,” tegas juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam keterangan tertulis, Kamis, 3 Juni 2021.
     
    Menurutnya, hal itu bisa dilakukan dengan memanfaatkan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) pada enam provinsi di Pulau Jawa. Selain itu, Wiku juga mendorong pemerintah daerah di Pulau Jawa memaksimalkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro. Sehingga kasus covid-19 betul-betul terpantau dengan baik mulai dari tingkat desa.
     
    Jika berhasil memperbaiki penanganan dan menurunkan kasus dalam satu hingga dua minggu ke depan, kata Wiku, bukan tidak mungkin kasus positif tingkat nasional turun secara drastis.

    “Peran pemerintah daerah sangat penting dalam penanganan covid-19. Sebab, pemerintah pusat tidak bisa berjalan sendiri dan memantau hingga tingkat desa di seluruh Indonesia,” cetusnya.

    Satu pekan terakhir, satgas mencatat ada 40.821 kasus covid-19 di Indonesia dan Pulau Jawa menyumbang 21.591 kasus di dalamnya.

    Lima provinsi dengan lonjakan kasus covid-19 terbanyak ialah Jawa Barat dengan 7.246 kasus, Jawa Tengah 5.568 kasus, DKI Jakarta 5.324 kasus, Riau 4.737 kasus, dan Kepulauan Riau 2.008 kasus. 

    Pada Kamis, 3 Juni 2021, dalam catatan Satgas, Jawa Barat, masih menjadi provinsi dengan kasus covid-19 harian terbanyak sebesar 1.176 kasus sehingga kumulatifnya menjadi 316.947 kasus.

    Untuk tingkat kematian, Jawa Tengah menempati peringkat pertama angka kematian tertinggi harian sebanyak 28 kasus sehingga kumulatifnya menjadi 9.277 kasus.

    Preventif promotif
    Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Adib Khumaidi menilai penanganan covid-19 saat ini masih fokus pada langkah kuratif, yakni obat, alkes, dan faskes. “Dalam upaya preventif promotif masih perlu ditingkatkan,” kata Adib kepada Media Indonesia.
     
    Tanpa upaya preventif dan promotif, imbuhnya, potensi penularan virus sulit diredam. Pasalnya, tingkat kepatuhan prokes yang rendah akan meningkatkan risiko terpapar covid-19, khususnya bagi kelompok rentan, seperti kaum orang lanjut usia, bayi, dan anak-anak.
     
    Pada bagian lain, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menilai penting sekali meningkatkan genome surveillance covid-19 dalam mendeteksi mutasi virus. Pasalnya, saat ini perkembangan mutasi covid-19 dan penyebarannya makin meluas.

    Menurutnya, untuk memetakan keseluruhan varian virus diperlukan upaya mengenalinya melalui pattern recognition. Hal itu disertai dengan kemampuan intelligence yang basisnya bisa deep learning atau supervised learning. 

    Hammam mengingatkan, bahwa SARS-CoV-2 yang menyebabkan covid-19 merupakan virus RNA yang memiliki laju mutasi tinggi dan dapat menyebabkan variasi patogenesis dan virulensinya atau kemampuan untuk menginfeksi. Karena itu, pemahaman dan upaya untuk mengenali mutasi atau munculnya varian sangat diperlukan dalam memprediksi transmisi infeksi virus, proteksi imunitas, dan pengembangan vaksin baru. Dok Media Indonesia

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id