grafis
 

    Remaja Sehat Harus Bebas Anemia

    27 Januari 2021 11:04 WIB
    "AKU enggak suka sayur. Sudah lama enggak makan sayur. Sejak awal covid-19 kayaknya sampai sekarang,” ujar Audrey, remaja putri berusia 15 tahun yang saat ini duduk di kelas 1 SMA di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa, 26 Januari 2021.

    Saat ditanya apa isi piringnya yang dimakannya sehari-hari, Audrey menyebutkan cukup nasi dan satu macam lauk. Kadang-kadang nasi dan mi instan, tanpa lauk atau sayur. “Itu juga satu kali sehari makannya. Kalau ngemil, sih enggak berenti,” tuturnya.

    Demikian juga dengan konsumsi air putih. Jika idealnya minum air putih minimal 8 gelas sehari, Audrey hanya minum 2 gelas air putih paling banyak. “Lebih banyak yang manis seperti teh dan sirup,” ucap gadis bertubuh tinggi itu.

    Akhir-akhir ini ia merasakan tubuhnya cenderung pusing, lemas, dan bertenaga. Pusing di kepala dirasakannya makin berat saat ia bangun dari tidur. “Kayaknya aku darah rendah, deh. Pernah waktu lagi jalan-jalan sekolah dulu. Setiap bangun dari posisi tidur seperti mau pingsan,” sebutnya.

    Pada 2020, ia sempat menerima tablet tambah darah sama posyandu deket rumahnya dan itu cukup mengurangi keluhan pusingnya. “Namun, sayangnya dikasih tablet itu cuma sekali pas awal covid-19. Habis itu enggak dapat lagi,” pungkasnya.

    Di antara sekian banyak problem gizi buruk di Indonesia, salah satu yang mengkhawatirkan ialah tingginya angka prevalensi anemia di kalangan remaja. Gejala anemia persis seperti yang dialami remaja bernama Audrey itu mudah lelah dan sering mengeluh pusing.

    Pada 2018, prevelensi anemia anak remaja berusia 15 sampai 24 tahun di Indonesia sebesar 32%, jauh di atas standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20%. 

    Dengan merujuk data Riskesdas 2018, sebanyak 50-60 % kasus anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Kekurangan zat besi ialah kondisi ketika kadar ketersediaan zat besi dalam tubuh lebih sedikit dari kebutuhan harian.

    Kondisi ini berdampak pada turunnya kekebalan tubuh, kurangnya konsentrasi belajar dan kemampuan berpikir, hingga membuat tubuh tidak bugar.

    Prof Dr drg Sandra Fikawati, MPH, ahli gizi ibu dan anak, menyatakan bahwa zat besi ialah salah satu mikronutrien atau sering juga dikenal sebagai vitamin dan mineral yang sangat penting untuk mendukung kemampuan belajar anak.
     
    “Jika orang tua tidak waspada, dampaknya akan diketahui saat sudah terlambat. Meskipun seorang anak mungkin terlihat kenyang, bisa jadi tubuhnya tengah kelaparan akibat kekurangan zat gizi mikro,” ujar Prof Fikawati, dalam webinar, Senin, 25 Januari 2021.

    Tablet tambah darah 

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan rendahnya asupan zat besi pada remaja dipengaruhi oleh kebiasaan asupan gizi yang tidak optimal dan kurangnya aktivitas fisik. 

    Pemberian tablet tambah darah (TTD) merupakan salah satu intervensi spesifik yang dilakukan pemerintah. Kemenkes, Kemendikbud, Kemenag, dan Kemendagri telah berkomitmen mendukung gerakan serentak minum TTD bagi para remaja putri seminggu sekali.

    “Para remaja akan sangat menentukan apakah Indonesia bisa naik kelas di tataran dunia nantinya, itu sebabnya negara-negara yang banyak memiliki populasi usia muda akan menjadi negara besar nantinya,” cetus Menkes saat peringatan Hari Gizi Nasional, 25 Januari 2021. Dok.MI

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id