grafis
 

    Hoaks soal Vaksin Rugikan Program Vaksinasi

    05 Juni 2021 09:00 WIB
    PENYEBARAN berita bohong (hoaks) terkait vaksin covid-19 dirasakan telah merugikan program vaksinasi yang sedang dilakukan peme rintah. Masyarakat diimbau dapat memilahmilah informa si yang tersebar di berbagai platform.

    “Karena hal ini merugikan program vaksinasi sehingga berimbas pada rendahnya cakupan vaksinasi, tidak hanya vaksinasi covid-19,” kata pemerhati imunisasi, Julitasari Sundoro, Jumat, 4 Juni 2021. 

    Ia menambahkan publik pun perlu mendapat penjelasan dari institusi yang kredibel dan dapat dipercaya, seperti Kementerian Kesehatan serta Kementerian Komunikasi dan Informatika.

    “Masyarakat jangan menelan mentah-mentah suatu berita dan informasi. Kita harus cek kembali kalau ragu dan tidak langsung menyebarkannya,” ujarnya.

    Seperti halnya menjawab keraguan masyarakat, Julitasari menerangkan sebenarnya kandungan vaksin covid19 ini adalah antigen dari virus SARS-CoV-2. Kandungan itu diperlukan untuk membentuk antibodi.

    Dalam pelaksanaan vaksinasi, apabila terjadi demam atau bengkak di tempat penyuntik an, tak perlu panik. Itu hal yang biasa pada proses pembentukan antibodi dalam tubuh manusia.

    “Reaksi-reaksi ringan akibat divaksinasi itu bisa hilang dalam satu-dua hari. Dalam kartu vaksinasi pun sudah diberikan nomor kontak untuk menghubungi apabila terjadi kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI),” imbuhnya. 

    Untuk diketahui, salah satu vaksin covid-19 yang digunakan untuk program vaksinasi nasional ialah Astrazeneca. Direktur Astrazeneca Indonesia, Rizman Abudaeri, menyebut pemerintah telah mempertimbangkan kajian ilmiah dan medis sehingga mendatangkan Astrazeneca. Rizman juga menambahkan, ketika akan digunakan oleh suatu negara, vaksin itu harus mendapatkan izin penggunaan dari otoritas negara tersebut dan juga memenuhi persyaratan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Ditingkatkan
    Penilaian serupa juga disampaikan oleh organisasi kemanusiaan Wahana Visi Indonesia (WVI) dan LaporCovid-19 bahwa rasa enggan serta ketakutan sebagian masyarakat terhadap vaksinasi covid-19 dipicu informasi yang disampaikan otoritas terkait belum seluruhnya dapat ditangkap warga.

    Kesimpulan itu didapat berdasarkan hasil umpan balik chatbot LaporCovid-19 sebagai upaya memetakan suara warga sehingga diketahui permasalahan yang terjadi dan dapat menjadi masukan untuk perbaikan.

    “Data ini didapat selama 20 hari mulai 6 hingga 26 April 2021 melalui chatbot LaporCovid-19 pada aplikasi Whatsapp dan Telegram,” kata relawan LaporCovid-19, Amanda Tan, Jumat.

    Sebanyak 45% umpan balik dari perdesaan memberi nilai buruk. Adapun di perkotaan sebanyak 20% melaporkan situasi saat vaksinasi, seperti antrean panjang, ketidakjelasan saat wawancara kesehatan, hingga penyimpanan kemasan secara sembarangan.

    Karena itu, imbuhnya, pelak sanaan vaksinasi juga perlu dilakukan secara transparan, harus terus dimonitor dan dievaluasi. Pemda juga perlu menyusun strategi komunikasi yang mempertimbangkan keragaman kebutuhan informasi bagi masyarakat dan proaktif melakukan pendataan serta pendaftaran vaksin. Dok Media Indonesia

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id