grafis
 

    Epidemi TBC Terancam Memburuk

    31 Maret 2021 14:41 WIB
    PANDEMI covid-19 membuat Yudi, 30, enggan melanjutkan pemeriksaan penyakit tuberkulosis (TBC) yang dideritanya. Padahal, pada akhir 2020 lalu dokter yang menanganinya telah menyarankan untuk melakukan pengobatan TBC karena dalam pemeriksaan rontgen paru-parunya ditemukan fl ek yang mengarah pada penyakit tersebut. 

    “Saya takut pergi ke rumah sakit. Nanti malah dikira covid-19. Jadi saya pikir nanti saja berobatnya setelah pandemi selesai,” kata Yudi saat dihubungi, Sabtu, 27 Maret 2021. 

    Rupanya, Yudi bukanlah satu-satunya orang yang menunda pengobatan TBC karena adanya pandemi covid-19. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada 2020 hanya 271.750 kasus TBC yang ditemukan. Angka tersebut menurun tajam jika dibandingkan dengan temuan pada 2019 yang sebanyak 568.987 kasus. Padahal,
    perkiraan jumlah kasus TBC di Indonesia pada 2020 sekitar 840.000.

    Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan kemunduran penemuan kasus TBC membuat penanganannya di tingkat global berjalan mundur. “Disrupsi akibat covid-19 membuat indikator kemajuan program TBC dunia mundur ke situasi di 2013-2016. Jadi kemunduran 5 sampai 8 tahun,” kata Tjandra.

    Dikatakan Tjandra, apabila penemuan kasus TBC menurun 25% dalam 3 bulan saja, akan ada peningkatan kematian akibat TBC sebanyak 190.000 orang di dunia. “Kalau di 2018 ada 1,49 juta kematian akibat TBC di dunia maka di 2020 diprediksi terjadi 1,85 juta efek dari pandemi,” beber Tjandra.

    Padahal, pengendalian TBC di kawasan di bawah WHO Asia Tenggara termasuk Indonesia sejauh ini telah mengalami peningkatan. “Kita butuh scaling up. Ada banyak hal yang bisa dilakukan bagaimana kita catch up, recover, untuk mitigasi covid-19 dan TBC,” kata Tjandra.

    “Untuk jangka pendek, akses situasi dan essential services harus tetap berjalan karena selama ini telantar tidak terdeteksi. Untuk jangka panjang dibutuhkan inovasi dalam pendeteksian dan pengobatan TBC agar target SDG’s 2030 eliminasi TBC bisa terwujud,” kata Tjandra.

    Pembelajaran
    Dokter spesialis paru Rumah Sakit Persahabatan, Erlina Burhan, mengungkapkan pandemi covid-19 bisa menjadi pembelajaran bagi Indonesia untuk melakukan penanganan TBC. Ia menyatakan model penanganan covid19 bisa diimplementasikan untuk penanganan TBC di masa yang akan datang.

    “Pemda sudah terbiasa tracing. Itu bisa memperkuat program investigasi kontak TBC. Selain itu, masyarakat kini lebih paham etika batuk, tindakan pencegahan infeksi lebih baik, masyarakat lebih paham pentingnya menggunakan masker, dan bila PHBS dilaksanakan optimal kemungkinan individu terjangkit TBC akan lebih kecil,” beber Erlina.

    Terkait upaya meningkatkan kesembuhan pasien TBC, Erlina menyatakan Indonesia bersama enam negara lain tengah melakukan penelitian akselerasi pengobatan TBC. 

    “Jadi Indonesia dan 6 negara meneliti pengobatan TBC sensitif dari yang tadinya 6 bulan hanya 2 bulan saja. Selain itu, pada TBC resisten obat dari yang pengobatannya 9 bulan menjadi hanya 6 bulan. Ini masih terus diteliti, dan apabila hasilnya bagus, bisa menjadi langkah akselerasi eliminasi TBC,” pungkas Erlina. dok Media Indonesia

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id