grafis
 

    Gempa dan Tsunami Besar Intai Jatim

    05 Juni 2021 12:54 WIB
    HASIL pemodelan matematis sebagai upaya memprediksi gempa dan tsunami terkuat dan terbesar yang kemungkinan terjadi di Jawa Timur ternyata cukup mencengangkan. 

    Terungkap, gempa berpotensi mengguncang Jawa Timur berkekuatan Magnitudo (M) 8,7 dan sangat mungkin diikuti tsunami setinggi 26 meter hingga maksimal 29 meter.

    Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyampaikan hasil analisis bahwa di seluruh pesisir wilayah Jawa Timur berpotensi tsunami dengan tinggi maksimum 26 meter hingga 29 meter di Kabupaten Trenggalek.

    “Waktu tiba tsunami tercepat 20-24 menit di Kabupaten Blitar, Kabupaten Pacitan, tinggi 25-28 meter dan waktu datangnya tsunami 26-29 menit, ini di seluruh pesisir pantai Jawa Timur. Sudah ada data hasil analisis dan saya persilakan jadi acuan selanjutnya,” kata Dwikorita dalam keterangannya, Jumat, 4 Juni 2021.

    Dalam menanggapi prediksi BMKG, Gubernur Jawa Timur Khofi fah Indar Parawansa menyebut sudah menyiapkan langkah-langkah mitigasi. “Pak Pangdam, Kapolda sudah turun, dan Bu Dwikorita juga sudah turun, apalagi saya. Jadi sudah dihitung, kira-kira pusat gempanya di sini dan evakuasinya ke mana? Evakuasi kira-kira butuh berapa menit dan pada ketinggian berapa, sudah saya detailkan.”

    Dia menambahkan apabila ditanya kepada Bupati Pacitan, pihaknya telah melakukan rakor virtual, bersama pemda setempat, ahli geologi, pakar LIPI, ITS, dan pihak terkait lainnya melakukan pemetaan serta menyiapkan jalur evakuasi.

    Sementara itu, pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Amien Widodo menerangkan pemodelan yang dilakukan BMKG merupakan langkah awal yang tepat. Apalagi ada beberapa frekuensi gempa di Jawa Timur meningkat sejak Januari hingga Mei 2021.

    “Ada ratusan (gempa) tiap bulannya. Nah ini mengkhawatirkan BMKG tadi, sehingga mereka membuat skenario terburuk, salah satunya mengaktifkan gempa yang pernah terjadi zaman dulu 8,7,” terang Amien.
     
    Selanjutnya aktivasi dimodelkan sehingga menimbulkan tsunami yang mencapai maksimum 29 meter. Mengingat daerah Jawa Timur terbentuk karena adanya tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, sehingga menjadi suatu keharusan untuk meneliti bab kegempaan di Jawa Timur. BMKG bukan tanpa alasan menyebutkan skenario terburuk.

    Intensitas
    Belajar dari fenomena Gempa Yogyakarta pada 2005 silam, Jawa Timur mengalami intensitas gempa yang lebih tinggi, sehingga patut dicurigai akan terjadi gempa besar dan tsunami.

    Amien kembali menjelaskan frekuensi gempa mengalami kenaikan, tetapi tidak lebih dari 50 gempa setiap bulannya. “Sementara itu, di lima bulan terakhir gempa yang terekam di Jawa Timur selalu lebih dari 500 kejadian per bulannya,” paparnya.

    Menurut Amien perbedaan frekuensi tahun 2005 lalu dengan tahun sekarang ini sangat jauh. Makanya, sudah sepantasnya masyarakat lebih waspada. Mengingat tumbukan lempeng yang menyusun Jawa Timur ini panjangnya sekitar 250 sampai 300 kilometer.

    “Kondisi gempa ini sangat mungkin terjadi di berbagai titik, di wilayah yang ada di sekitar zona subduksi, yakni zona tempat terjadinya tumbukan itu,” ungkapnya. Dok Media Indonesia

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id