grafis
 

    Toleransi Beragama di Perguruan Tinggi

    02 Maret 2021 08:12 WIB
    BANGSA Indonesia seakan tidak pernah lepas dari tantangan dalam menyikapi ke beragaman, konfl ik sosial, serta kekerasan karena perbe daan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

    Hal inilah yang mendorong Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta menggelar survei nasional toleransi di kalangan mahasiswa dan dosen dari beragam kelompok.

    “Dalam beberapa tahun ada kecenderungan sikap intoleran dan segregatif di kalangan anak muda yang mengkhawatirkan jika dilihat dari konteks keberagaman In donesia,” kata Direktur Ek sekutif PPIM UIN Jakarta, Ismatu Ropi, dalam webinar bertajuk Kebinekaan di Mena ra Gading: Toleransi Beragama di Perguruan Tinggi, Senin, 1 Februari 2021.

    Hasilnya? Mayoritas atau 69,83% mahasiswa me mi liki sikap toleransi beragama tergolong tinggi dan sangat tinggi. Sebanyak 24,89% mahasiswa memiliki sikap toleransi beragama rendah, dan sebanyak 5,27% lainnya
    menyandang sikap toleransi beragama sangat rendah.

    Apabila digabungkan, sebanyak 30,16% mahasiswa memiliki sikap toleransi beragama rendah atau sangat rendah. Adapun dari 69,83% mahasiswa yang tergolong memiliki sikap toleransi beragama tinggi, 20% di antaranya memiliki toleransi sangat tinggi terhadap pemeluk agama lain.

    “Perguruan Tinggi sebagai institusi pendidikan tertinggi seharusnya bertumpu pada nilai-nilai demokratis, keadilan, nondiskriminatif, dan kemanusiaan,” ujar Koordinator Survei Yunita Faela Nisa.

    Adapun di sisi lain, aspek perilaku toleransi beragama menunjukkan hanya 11,22% mahasiswa memiliki perilaku toleransi rendah (10,08%) dan sangat rendah (1,14%). Sisanya, sekitar 88,78% mahasiswa menunjukkan perilaku toleransi tinggi dan sangat tinggi terhadap pemeluk agama lain.

    Survei terhadap mahasiswa dan dosen di 92 perguruan tinggi seluruh Indonesia itu menggunakan pendekatan kuantitatif yang mencakup semua kelompok agama (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu, dan aliran kepercayaan).

    Peneliti PPIM lainnya, Sirojuddin Arif, mengakui adanya faktor yang berkorelasi pada toleransi mahasiswa, yakni mahasiswa dengan pengalaman interaksi sosial dengan kelompok berbeda menunjukkan tingkat toleran si beragama tinggi.

    Dalam menanggapi hasil survei, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbud Aris Junaidi mengatakan pemerintah akan mewajibkan kampus untuk mengajarkan mata kuliah agama, Pancasila, dan kewarganegaraan.

    “Intinya di dalam mata kuliah wajib itu harus ada unsur toleransi, materi pencegahan radikalisme, pembinaan ideologi, dan bela negara,” tandas Aris. Dok Media Indonesia

    (WWD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id