comscore

Ekonomi Sirkular Solusi Problem Sampah Plastik

Rosa Anggreati - 29 Juni 2022 18:25 WIB
Ekonomi Sirkular Solusi Problem Sampah Plastik
Bank sampah memegang peranan penting dalam konsep ekonomi sirkular (Foto:Antara/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta: Penanganan sampah plastik menjadi persoalan yang belum tuntas. Penerapan konsep ekonomi sirkular menjadi salah satu cara yang ditempuh pemerintah dalam upaya mengurangi sampah plastik di Indonesia.
 
Apa itu ekonomi sirkular? Konsep ekonomi sirkular berpedoman pada prinsip mengurangi sampah dan memaksimalkan sumber daya yang ada.
 
Konsep ekonomi sirkular mengedepankan penggunaan sumber daya, sampah, emisi dan energi terbuang diminimalisir dengan menutup siklus produksi-konsumsi dengan memperpanjang umur produk, inovasi desain, pemeliharaan, pengunaan kembali, remanufaktur, daur ulang ke produk semula (recycling), dan daur ulang menjadi produk lain (upcycling).

Saat ini, pemerintah Indonesia menggunakan konsep ekonomi sirkular untuk membantu mengurangi sampah plastik. Ditargetkan sampah plastik di laut berkurang hingga 70 persen pada 2025.
 
Ekonomi sirkular merupakan model industri baru yang berfokus pada reducing, reusing, dan recycling yang mengarah pada pengurangan konsumsi sumber daya primer dan produksi limbah.
 
"Konsep ini  tentunya bukan hanya pengelolaan limbah, tetapi juga selanjutnya menggunakan proses produksi di mana bahan baku dapat digunakan berulang-ulang sehingga tentu akan terjadi saving yang besar terutama untuk sumber daya alam," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip laman ekon.go.id.
 
Transformasi menuju ekonomi sirkular menjadi penting bagi Indonesia karena akan membawa banyak dampak positif, baik bagi lingkungan serta pertumbuhan berbagai sektor pembangunan dimasa depan.
 
Selain dapat meningkatkan pertumbuhan PDB Indonesia, penerapan konsep ekonomi sirkular juga berpotensi menghasilkan 4,4 juta tambahan lapangan pekerjaan, di mana tiga perempatnya memberdayakan perempuan dengan kesempatan yang lebih baik pada 2030.
 
Ekonomi sirkular pun akan memberi kontribusi pada upaya pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. 
 
"Kita berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pada 2030 sebesar 29 persen, dan apabila ada kerja sama internasional dapat ditingkatkan menjadi 41 persen," kata Menko Airlangga.


Prinsip Utama Konsep Ekonomi Sirkular


Pemerintah Indonesia tengah menggalakkan konsep ekonomi berkelanjutan atau ekonomi sirkular yang sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.
 
Konsep ekonomi sirkular mengacu pada lima prinsip utama, yaitu reduce (mengurangi pemakaian material mentah dari alam), reuse (mengoptimalkan penggunaan material yang dapat dipakai kembali), recycle (penggunaan material hasil dari proses daur ulang), recovery (proses perolehan kembali), repair (melakukan perbaikan). 
 
Contoh pengaplikasian konsep ekonomi sirkular, yaitu aspal plastik. Prosesnya dimulai dari produksi plastik/manufaktur, kemudian produk plastik digunakan oleh manusia. Setelah produk selesai digunakan, ia menjadi sampah plastik. Proses selanjutnya, sampah plastik dikumpulkan, dibersihkan, dan dicacah (recycle). Lalu, cacahan sampah plastik dicampur dengan agregat aspal. Kemudian, aspal yang telah dicampur sampah plastik siap digunakan.
 
Contoh lainnya yang paling dekat dengan keseharian masyarakat ialah pemanfaatan bank sampah. Bank sampah memegang peranan penting dalam konsep ekonomi sirkular.
 
Sampah rumah tangga yang telah dipisahkan antara sampah organik dan anorganik oleh masyarakat disetor ke bank sampah. 
 
Pendekatan ekonomi sirkular dinilai sebagai kerja sama saling menguntungkan karena sampah plastik mendatangkan nilai ekonomi baru, sekaligus mengurangi timbunan sampah yang akhirnya berdampak positif terhadap lingkungan. 
 
Ekonomi sirkular telah dijalankan oleh Le Minerale bekerja sama dengan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) dan Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) melalui Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale. Gerakan ini merupakan komitmen multi-stakeholder dalam pengelolaan sampah plastik polyethylene terephthalate (PET).
 
Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale yang diluncurkan pada Februari 2021, menargetkan peningkatan collection rate & recyling rate plastik sebesar 20 persen.
 
Upaya yang dilakukan Le Minerale tersebut sejalan dengan tekad pemerintah mewujudkan Indonesia bersih sampah pada 2025 dengan pengurangan 30 persen dan penanganan 70 persen pengurangan sampah.
 
Sustainability Director PT Tirta Fresindo Jaya Ronald Atmadja mengatakan Le Minerale mendukung upaya pemerintah dalam pengelolaan sampah nasional dan ikut mengajak semua pemangku kepentingan untuk bersama mengelola sampah.
 
"Melalui program Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale, kami berjuang untuk meningkatkan collection rate dan recycling rate tumbuh di atas 20 persen. Le Minerale akan terus mengedukasi konsumen untuk dapat memilah sampah, mengenalkan konsep ekonomi sirkular dan juga bermitra dengan siapapun yang mau bersama-sama mengelola sampah," kata Ronald Atmadja.
(ROS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id