comscore

Jenis-jenis Sampah Plastik dan Cara Mengolahnya agar Tak Merusak Lingkungan

Rosa Anggreati - 23 Desember 2021 15:01 WIB
Jenis-jenis Sampah Plastik dan Cara Mengolahnya agar Tak Merusak Lingkungan
Sampah plastik menjadi momok bagi lingkungan karena mencemari tanah dan laut, serta sifatnya yang tak mudah terurai secara alami (Foto:Freepik)
Jakarta: Sampah plastik menjadi momok bagi lingkungan karena mencemari tanah dan laut, serta sifatnya yang tak mudah terurai secara alami.
 
Tahukah Anda, sampah plastik terbagi dalam beberapa jenis. Apa saja?
 
1. PET (Polyethylene Terephthalate)
 
Sampah jenis ini terdapat pada botol minuman kemasan.
 
2. HDPE (High Densy Polyethylene) atau Polietilena berdensitas tinggi
 
Dapat ditemui pada botol detergen.
 
3. PVC (Polivinil Klorid)
 
Biasanya terdapat pada pipa dan mebel.
 
4. LDPE (Low Density Polyethylene) atau Polietilena berdensitas rendah
 
Biasanya digunakan sebagai pembungkus makanan.
 
5. PP (Polipropilena)
 
Umumnya terdapat pada tutup botol minuman, sedotan, dan mainan.
 
6. PS (Polistirena)
 
Lazim ditemui pada kotak makanan, pembungkus daging, cangkir, dan peralatan dapur.
 
7. Other (O)
 
Other merupakan jenis plastik yang tidak termasuk ke dalam klasifikasi enam kode sebelumnya. Penggunaan jenis plastik ini untuk makanan atau minuman dapat membahayakan kesehatan karena menghasilkan racun Bisphenol-A (BPA). Efeknya bisa merusak beberapa organ dan mengganggu hormon tubuh.
 
Plastik umum digunakan karena praktis dan mudah. Namun, setelah tak terpakai plastik akan menjadi sampah yang merepotkan karena sulit terurai secara alami. Perlu puluhan bahkan ratusan tahun agar hancur. Oleh karena itu, diperlukan solusi alternatif agar keberadaan sampah plastik dapat ditangani dengan baik.
 
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerapkan penanganan sampah plastik dengan pola 3R (reduce, reuse, recycle). Bahkan, peraturan 3R telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan 3R Melalui Bank Sampah yang menjadi dasar pelaksanaan bank sampah di Indonesia.
 
"Kita harus mengambil tanggung jawab untuk menjaga kebersihan mulai dari diri sendiri, mulai dari rumah sendiri dengan menerapkan prinsip mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah (reduce, reuse, recycle) di tempat masing-masing,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, Rosa Vivien Ratnawati.
 
Selain itu, Vivien mengatakan saat ini ada tiga pendekatan yang dilakukan pemerintah, yaitu zero waste melalui perubahan perilaku, pendekatan teknologi, dan pendekatan ekonomi sirkular.
 
Pendekatan ekonomi sirkular dinilai sebagai kerja sama saling menguntungkan karena sampah plastik mendatangkan nilai ekonomi baru, sekaligus mengurangi timbunan sampah yang akhirnya berdampak positif terhadap lingkungan.
 
Kegiatan daur ulang limbah plastik merupakan salah satu penggerak kegiatan ekonomi berbasis sirkular. Beberapa jenis plastik memiliki nilai ekonomi yang tinggi, salah satunya adalah plastik jenis PET yang memiliki permintaan tinggi di industri daur ulang.

Penggunaan bahan ini sejalan dengan visi KLHK mengenai peta penanganan sampah melalui daur ulang dan pemanfaatan kembali dengan prinsip sirkulasi ekonomi.
 
PET (polyethylene terephthalate) adalah jenis plastik yang banyak digunakan sebagai bahan baku produk plastik, seperti kemasan botol dan galon air minum karena sifatnya yang unggul, di antaranya berwarna jernih, ringan, mudah dibentuk, tidak mudah pecah.
 
Kemasan plastik yang berbasis PET juga lebih higienis dan aman digunakan, serta mudah didaur ulang, dan bernilai ekonomis relatif tinggi. Melalui ekonomi sirkular, sampah plastik didaur ulang dan memiliki nilai sosial ekonomi bagi masyarakat.
 
Ekonomi sirkular mulai dijalankan oleh Le Minerale bekerja sama dengan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) dan Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), yaitu menggagas proyek Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale. Gerakan ini merupakan komitmen multi-stakeholder dalam pengelolaan sampah plastik polyethylene terephthalate (PET).
 
Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale yang diluncurkan pada Februari 2021 ini, menargetkan peningkatan collection rate & recyling rate plastik sebesar 20 persen. Upaya yang dilakukan Le Minerale tersebut sejalan dengan tekad pemerintah mewujudkan Indonesia bersih sampah pada 2025 dengan pengurangan 30 persen dan penanganan 70 persen pengurangan sampah.
 
Sustainability Director PT Tirta Fresindo Jaya Ronald Atmadja mengatakan Le Minerale mendukung upaya pemerintah dalam pengelolaan sampah nasional dan ikut mengajak semua pemangku kepentingan untuk bersama mengelola sampah.
 
"Melalui program Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale, kami berjuang untuk meningkatkan collection rate dan recycling rate tumbuh di atas 20 persen. Le Minerale akan terus mengedukasi konsumen untuk dapat memilah sampah, mengenalkan konsep ekonomi sirkular dan juga bermitra dengan siapapun yang mau bersama-sama mengelola sampah," kata Ronald Atmadja.
(ROS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id