Kemiskinan Masih Jadi Tantangan Penerapan SDGs

    Media Indonesia - 17 Juni 2020 18:20 WIB
    Kemiskinan Masih Jadi Tantangan Penerapan SDGs
    Foto: dok MI/Panca Syurkani.
    Jakarta: Indonesia masih menghadapi tantangan dalam penerapan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Salah satunya, upaya mengentaskan kemiskinan.

    Direktur Riset Indef Berly Martawardaya menuturkan tingkat pengentasan kemiskinan semakin melambat. Sepanjang 2012-2019, pemerintah hanya mampu mengurangi kemiskinan sekitar 0,5 persen per tahun.

    "Tingkat kemiskinan memang menurun, tapi pengentasan kemiskinan melambat. Pada 2005-2009, bisa mengentaskan hingga satu persen kemiskinan per tahun. Setelah 2011, rata-rata hanya 0,5 persen," ujar Berly dalam konferensi pers virtual, Rabu, 17 Juni 2020.

    Menurutnya, pemerintah harus fokus pada persoalan kemiskinan. Sebab, akan memengaruhi target SDGs yang lain. Dia membandingkan upaya Indonesia dengan negara seperti India, Vietnam, Srilanka, dan Mongolia, yang tingkat pengentasan kemiskinannya lebih tinggi.

    "Di India cukup pesat. Mereka cukup berhasil. Kita bisa melihat dan belajar dari mereka. Sehingga, bisa menurunkan secara drastis kemiskinan ini," imbuh Berly.

    Baca: Angka Kemiskinan Diprediksi Melonjak Imbas Covid-19

    Pengajar di Universitas Indonesia menggarisbawahi urgensi keterbukaan data terkait pencapaian target SDG. Saat ini, pengamat dan akademisi kesulitan untuk memperoleh data tersebut. Transparasi dan akuntabilitas data bisa memengaruhi percepatan penyelesaian masalah.

    Data yang dimaksud menyasar tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota. Berly menekankan data bisa mencerminkan fakta di lapangan. Dalam hal ini, mana daerah yang mengalami kemajuan, atau justru tertinggal. Lewat data, banyak hal yang bisa diakselerasi.

    Staf Ahli Kepala Bappenas Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Vivi Yulaswati menyebut pemerintah terus mengevaluasi penerapan SDGs di Indonesia. Pihaknya mengakui masih banyak tantangan dalam implementasi semangat SDGs. Mulai dari tingkat pusat hingga daerah.

    "Intinya, ada peta jalan mengenai arah kebijakan dan indikator kunci. Serta, keterkaitan antar tujuan dan target tercapai. Tapi memang masih diperlukan kolaborasi di berbagai lini dan berbagai negara, agar no one left behind bisa dilaksanakan," jelas Vivi. (Hilda Julaika)

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id