Menkop akan Kembali Hidupkan Perhutanan Sosial

    Ilham wibowo - 02 Oktober 2020 16:46 WIB
    Menkop akan Kembali Hidupkan Perhutanan Sosial
    Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.
    Jakarta: Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki memastikan bakal kembali menggerakkan program perhutanan sosial untuk peningkatan produktivitas pangan dan kesejahteraan petani rakyat. Model bisnis akan diterapkan agar lingkaran ekonomi bisa terbentuk dan berkelanjutan.

    Sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan masyarakat setempat sedianya ada alokasi lahan seluas 12,7 juta hektare (ha). Menurut Teten, selama periode 2015-2019, pemanfaatannya baru empat juta ha dan perlu kembali ditingkatkan.

    "Setiap kepala keluarga dipinjamkan lahan sebanyak dua ha selama 35 tahun dan bisa diperpanjang selama 35 tahun, jadi ini sebenarnya satu kebijakan atau bagian dari reforma agraria untuk memberikan keadilan kepemilikan lahan kepada masyarakat," kata Teten dalam diskusi Petani dalam Program Perhutanan Sosial, Jumat, 2 Oktober 2020.

    Selain dana tunai, Teten menuturkan bahwa ketersediaan lahan yang subur merupakan modal penting memulai usaha produksi pertanian rakyat. Pengelolaan hutan sosial tersebut sejauh ini baru dimanfaatkan perusahaan skala besar dalam bentuk hak guna usaha (HGU).

    "Sekarang saya di Kemenkop UKM, beliau (Presiden) ingin program perhutanan sosial ini betul-betul menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, yaitu kekuatan ekonomi rakyat," ungkapnya.

    Teten menyebut bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk pemanfaatan lahan hutan sosial agar bisa kembali produktif. Sejumlah langkah pengembangan telah disusun agar produksi pertanian dilakukan secara gabungan petani dan dikelola koperasi.

    "Kita harus sudah mulai memikirkan agar para petani ini tidak lagi bertani sendiri-sendiri skala kecil tapi bergabung dalam koperasi dalam skala bisnis atau skala ekonomi. Tentu juga kita harus mencari produk yang memang permintaan pasar di dalam negeri ada, bahkan pasar ekspor," paparnya.

    Contoh koperasi produk yang ideal, lanjut Teten, berisi gabungan petani sebagai anggotanya dan telah menjalin kemitraan bisnis dengan perusahaan besar sebagai offtaker. Akses pembiayaan produksi pertanian pun bisa memanfaatkan ekosistem yang ada seperti di koperasi simpan pinjam.

    "Jombang ada edamame itu bagus, modelnya adalah si petani menanam kacang edamame dalam skala 300 hektare, lalu dia bermitra dengan PT Mitra Tani dan produk petani diserap atau diolah semua sampai ke yang afkir," tuturnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id