Tak Sekadar Memilah, Bank Sampah Bisa Jadi Ruang Edukasi

    Media Indonesia.com - 26 Februari 2021 20:13 WIB
    Tak Sekadar Memilah, Bank Sampah Bisa Jadi Ruang Edukasi
    Dirjen PSLB3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rosa Vivien Ratnawati. Foto: Dok KLHK



    Jakarta: Tak sekadar dijadikan tempat memiliah, mencacah, mencuci, dan menjual sampah, bank sampah juga bisa berperan lebih. Salah satunya menjadi ruang edukasi bagi masyarakat. Menjadi salah satu lokus untuk mengubah perilaku masyarakat.

    "Peran bank sampah harus dilihat secara holistik mulai dari hulu ke hilir. Mulai dari pendekatan edukasi pemilahan yang dilakukan oleh masyarakat sampai kepada pemasaran di industri daur ulang," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, Jumat, 26 Februari 2021.






    Pengelolaan bank sampah, lanjut Rosa, harus dilakukan dalam bentuk kolaborasi. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha harus bahu-membahu mengolah sampah. Apalagi, jumlah bank sampah saat ini mencapai 11.330 unit. Sekitar 20 persennya merupakan binaan dari swasta.

    Rosa mengatakan peran pemerintah daerah sangat diharapkan karena bank sampah menjadi salah satu cara pencapaian target kebijakan strategis daerah (jakstrada) dalam pengurangan sampah. Artinya, pelibatan harus dimulai dari tingkat rukun tetangga (RT).

    Ketua Bank Sampah se-Indonesia, Saharuddin Ridwan, mengatakan, pemerintah daerah berpeluang mendapatkan keuntungan dari bank sampah. Misalnya, pemerintah kabupaten atau kota bisa membentuk Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) khusus.

    Taruhlah UPTD menganggarkan Rp300 juta untuk membiayai bank sampah. Saharuddin yakin, jika pengelolaannya baik, penerimaannya akan berlipat mencapai Rp1 miliar. "Dan uang itu bisa kembali ke kas kabupaten/kota," kata dia.

    Baca: KLHK Edukasi Memaksimalkan Sampah Jadi Bahan Baku Ekonomi

    Kunci berkembangnya bank sampah, lanjut dia, adalah penanganan bersama. "Karena menurut saya, tujuan keberadaan bank sampah ini adalah bagaimana mengelola sampah ini agar dirasakan oleh masyarakat. Lingkungan pun menjadi lebih bersih," kata dia.

    Contoh sukses daerah yang mengembangkan bank sampah adalah Kota Makassar dan Kabupaten Goa. UPTD di kedua daerah itu bekerja sama dengan vendor untuk menampung sampah yang dikumpulkan masyarakat. Harga sampah juga dipatok tinggi agar masyarakat semakin bersemangat. Selain itu ada kepastian sampah yang dikumpulkan diangkut .

    “Para nasabah bank sampah di sana datang sambil membawa buku tabungan. Dicatat sampah apa saja yang dibawa, beratnya berapa, dan nilainya berapa. Hasinya dikonversi dengan uang. Nah, uangnya itulah yang menjadi tabungan mereka," papar Saharuddin.

    Namun, tantangan di lapangan, masih banyak masyarakat yang  belum paham akan pentingnya keberadaan bank sampah. Pola pikir seperti itu harus diubah.

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id