KLHK Dorong PLTU Jawa 9 & 10 sebagai Role Model Pembangkit Ramah Lingkungan

    Medcom - 08 April 2021 16:08 WIB
    KLHK Dorong PLTU Jawa 9 & 10 sebagai <i>Role Model</i> Pembangkit Ramah Lingkungan
    Ilustrasi PLTU Jawa 9 & 10 Indo Raya Tenaga. Foto: dok IRT.



    Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 9 & 10 patut menjadi role model untuk pengembangan pembangkit ramah lingkungan. Pembangkit ini dinilai ramah lingkungan karena menggunakan teknologi maju.

    Pengelola PLTU Jawa 9 & 10, PT Indo Raya Tenaga (IRT), serius berkomitmen menciptakan PLTU yang ramah lingkungan. Perseroan pun mampu mampu menekan emisi jenis polutan SOx, partikulat, dan NOx hingga jauh di bawah ketentuan maksimal yang disarankan pemerintah. Upaya ini dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan mendapatkan pengakuan dalam Indonesia Green Award (IGA) 2021.






    "Ini bisa mengubah kesadaran para pengusaha tentang tanggung jawab," tegas Wakil Menteri KLHK Alue Dohong usai menghadiri IGA 2021, dikutip dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 8 April 2021.

    Ia mengatakan, keberadaan perusahaan seperti IRT, memunculkan kesadaran para pengusaha untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan tujuan utama, mencegah kerusakan alam akibat emisi atau gas buang yang keluar dari PLTU atau pabrik. Apalagi, menurut dia, saat ini masih banyak pengusaha yang abai akan hal tersebut.  Alue pun mendorong para pengusaha untuk berani mengeluarkan terobosan baru, mencegah kerusakan lingkungan tersebut, seperti pengelola PLTU Jawa 9&10.

    "Dan itu bisa membuat branding usahanya lebih bagus. Sebab, tidak hanya mengejar keuntungan saja. Tapi juga memperhatikan sosial juga," jelasnya.

    Bila tak ada perubahan dalam upaya bisnis lebih memperhatikan lingkungan, Alue khawatir, hal tersebut akan menyebabkan perubahan iklim  secara drastis. Bahkan, bisa  menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir, kekeringan, hingga peningkatan muka air laut.

    Penyelenggara IGA kali ini memberikan penghargaan kepada IRT dengan kategori perusahaan yang memelopori PLTU nan ramah lingkungan dengan teknologi maju. Teknologi seperti Flue Gas Desulfurization (FGD), Electro Static Precipitator (ESP), Low Nox Burner, dan Selective Catalytic Reduction (SCR) pun dipakai untuk menekan emisi udara berupa SOx, partikulat, dan NOx.

    Konstruksi PLTU yang juga memasang Ultra Super Critical (USC) dan menggunakan peralatan utama buatan Organization of Economic Co-operation and Development (OECD) ini, diresmikan Presiden Joko Widodo melalui groundbreaking pada 2017 lalu. Sejak tahap pembangunan, PLTU 9&10 dinilai KLHK dan penyelenggara IGA,  sudah melakukan sejumlah upaya pelestarian lingkungan, termasuk penghijauan dan konservasi alam.

    "Kami satu-satunya di Indonesia yang pakai teknologi paling lengkap, termasuk SCR. Jerih payah komitmen kami itu bisa diakui paling tidak oleh pemerintah yakni KLHK. Selain itu ada juga sense of achievement secara pribadi, boleh dibilang orang menggadang-gadangkan green, we are try to make it as green as possible untuk base load yang reliable," tambah Presiden Direktur Indo Raya Tenaga Peter Widjaya.

    Menurut peraturan, standar baku mutu SOx, Partikulat, dan NOx untuk PLTU dalam tahap konstruksi ini masing-masing adalah 550 mg/Nm3, 100 mg/Nm3, 550 mg/Nm3. Namun dengan teknologi yang digunakan pembangkit Jawa 9&10, angka-angka tersebut dipangkas menjadi dibawah 350 mg/Nm3, 30 mg/Nm3, dan 128mg/Nm3, secara berurutan untuk SOx, Partikulat, dan NOx.

    "Memang sudah cukup rendah, namun kami yakin akan bisa jauh di bawah itu apabila bahan bakar yang disuplai sesuai standar pabrikan," tegas Peter yang didampingi Direksi IRT lainnya, Jinyoung Jeong dan Moch. Chairul.

    Ia melanjutkan, PLTU Jawa 9 & 10 yang 51 persen kepemilikannya pada PLN adalah showcase keberhasilan pemerintah dalam menggaet pihak swasta dan bank-bank internasional untuk mendanai mega proyek tanpa jaminan pemerintah dan tanpa membebani APBN.

    "Proses project financing sangat melelahkan, belum ada preseden joint venture yang seperti ini, apalagi tahun lalu kami FC (financial closing) waktu pandemi," pungkasnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id