Pemanfaatan Minyak Jelantah Jadi Bensin Tingkatkan Perputaran Ekonomi Masyarakat

    Suci Sedya Utami - 10 Januari 2021 16:51 WIB
    Pemanfaatan Minyak Jelantah Jadi Bensin Tingkatkan Perputaran Ekonomi Masyarakat
    Ilustrasi. Foto: Dok.MI
    Jakarta: Traction Energy Asia mendorong pemanfaatan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai pelengkap (complementery) yang bisa dijadikan biodiesel atau bahan bakar (bensin) terbarukan nonfosil.

    Manajer Riset Traction Energy Asia Ricky Amukti menjelaskan pemanfaatan minyak jelantah bisa meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat. Selain itu, dengan memanfaatkan kembali minyak jelantah melalui gerakan pengumpul bisa membantu mendorong klaster lingkungan dan kesehatan.

    Ricky mengatakan selama ini minyak jelantah yang dikumpulkan dari total konsumsi minyak goreng sawit di Indonesia hanya kurang dari 18,5 persen. Ia menyebutkan data 2019, konsumsi minyak goreng di dalam negeri mencapai 13 juta ton atau 16,2 juta kiloliter (KL).

    Jumlah tersebut bila dijadikan biodiesel potensinya mencaai 3,24 juta KL. Namun minyak jelantah yang dikumpulkan hanya tiga juta KL, yang mana 1,6 juta KL berasal dari rumah tangga (minyak jelantah rumah tangga).

    "Kalau kita lihat pemanfaatan minyak jelantah saat ini dari tiga juta KL tadi hanya kurang dari 570 ribu KL yang dimanfaatkan jadi biodiesel maupun kebutuhan lainnya. Sebagian besar digunakan untuk minyak goreng daur ulang atau ekspor," kata Ricky, dilansir dari kanal youtube Katadata dalam virtual forum peluang minyak jelantah sebagai alternatif bahan baku biodiesel, Minggu, 10 Januari 2021.

    Ia menyebutkan minyak jelantah yang digunakan sebagai daur ulang mencapai 1,95 juta ton atau 2,43 juta KL. Padahal, penggunaan minyak goreng secara berulang-ulang, kata Ricky, sangat berbahaya bagi kesehatan dan dapat menimbulkan risiko bagi jantung dan kanker.

    Sementara untuk yang diekspor mencapai 148,38 ribu ton atau 184,09 KL. Menurut Ricky, feedstock minyak jelantah yang dieskpor mengalami peningkatan dari 2014 yang hanya sebesar 55.587 ton.

    Ia bilang hampir seluruh negara tujuan ekspor minyak jelantah menggunakannya untuk biodiesel. Artinya, menurut Ricky, penggunaan minyak jelantah untuk menjadi bensin tidak menjadi masalah sebab negara lain pun banyak yang telah menggunakan. Hanya saja hal ini sangat tergantung dari penggunaan teknologinya.

    "Maka dari itu sebenarnya PR kita bagaimana menerapkan teknologi-teknologi dari negara-negara tersebut ke Indonesia karena mereka gunakan juga sebagai biodiesel," tutur Ricky.

    Lebih lanjut Ricky menambahkan, saat ini terdapat tiga metode pengumpulan minyak jelantah yang bisa diterapkan secara masif.

    Pertama, model sedekah yang telah diterapkan di Jakarta. Kedua, metode asosial yang juga diterapkan di Jakarta Selatan dengan kerja sama antara pemda setempat bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    Ketiga, metode bank sampah yang menukarkan 3-5 liter minyak jelantah dan digantikan dengan satu liter minyak goreng kemasan.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id