Grup Astra Bina Ratusan Kampung Edukasi Masyarakat Kelola Sampah

    Gervin Nathaniel Purba - 31 Juli 2021 11:00 WIB
    Grup Astra Bina Ratusan Kampung Edukasi Masyarakat Kelola Sampah
    Kepedulian Grup Astra akan pentingnya pengelolaan sampah dengan benar turut mendorong upaya pemerintah mewujudkan net zero emission pada 2060, atau bahkan lebih cepat (Foto:Dok)



    Jakarta: Grup Astra memiliki perhatian besar pada masalah pengelolaan sampah di Indonesia. Dalam menunjukkan kepeduliannya, Grup Astra melakukan pembinaan langsung kepada masyarakat di berbagai perkampungan.
     
    Indonesia dinilai belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik. Salah satu penyebabnya disebabkan belum ada kesadaran (awareness) dari masyarakat untuk mengelola sampah dengan benar. Tidak heran jika Indonesia dianggap sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia karena belum mampu melakukan pemilahan sampah secara optimal.
     
    Kepedulian Grup Astra akan pentingnya pengelolaan sampah dengan benar ini tentunya turut mendorong upaya pemerintah mewujudkan net zero emission pada 2060, atau bahkan lebih cepat.
     
    Hal ini menjadi pembahasan dalam forum diskusi Indonesia Green Summit 2021 yang diselenggarakan oleh Media Group News (MGN). Acara digelar secara hybrid pada 26-27 Juli, pukul 09.00-17.30 WIB dengan mengangkat tema 'Membela Kepentingan Nasional Menuju Net Zero Emission 2060.
     
    Head of Environment and Social Responsibility Astra Diah Suran Febrianti menjelaskan, dalam membangun kesadaran dan kemauan dari masyarakat, pihaknya harus menjangkau ke satuan terkecil, yakni membina ke perkampungan. Pembinaan ke perkampungan itu tertuang dalam program Kampung Berseri Astra.
     
    "Kami memiliki pembinaan terhadap 116 Kampung Berseri Astra di seluruh Indonesia. Salah satu pilar pengembangannya adalah pilar lingkungan," ujar Diah, dalam Media Group News Summit Series bertajuk Indonesia Green Summit 2021, secara virtual, Senin, 26 Juli 2021.
     
    Melalui Kampung Berseri Astra, Grup Astra mendorong setiap kampung untuk memiliki satu sistem pengelolaan sampah. Salah satunya bank sampah. Dari program ini, Grup Astra menemukan fakta bahwa tidak semua kampung mempunyai bank sampah.
     
    "Kiranya hal ini bisa menjadi perhatian besar bagi pemerintah," ujar Diah.
     
    Dari temuan tersebut, Diah mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk menjalin kerja sama dengan sektor private untuk bisa menghubungkan para pengumpul sampah plastik di setiap RT dengan bank sampah terdekat. Grup Astra telah mencoba mengajak 87 bank sampah agar terkoneksi dengan para pengumpul sampah.
     
    "Ketika dikumpulkan sampahnya sudah dalam bentuk yang terpilah yang akan diolah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)," ujarnya.
     
    Selain itu, Kampung Berseri Astra juga mendorong bank sampah untuk bisa mandiri dalam jangka panjangnya. Dalam paparannya, Diah tidak ingin jika bank sampah akan mati jika tidak dilakukan pembinaan lagi.
     
    Caranya, dengan menguatakan manajemen bank sampah dengan cara mengelola dananya dari dana bergulir dari hasil penjualan sampah. Kemudian, mereka mendorong para kader untuk melakukan edukasi kepada masyrakat.
     
    "Tentu saja hal ini perlu dukungan dari pemerintah daerah dan asosiasi. Tentunya gimana setelah sampah terkumpul dan bisa diambil oleh off takernya," kata Diah.

    Grup Astra Bina Ratusan Kampung Edukasi Masyarakat Kelola Sampah 

     



    Dalam Kampung Berseri Astra, kata Diah, juga diberikan apresiasi kepada masyarakat yang memiliki kematangan dan kemandirian dalam pengelolaan bank sampah.
     
    Bagi para juara, mereka akan menjadi mentor bagi bank sampah pada Kampung Berseri Astra yang lain. Cara ini bisa menciptakan efek yang lebih luas dalam memperbanyak bank sampah.
     
    Salah satu contoh nyata pelaksanaan Kampung Berseri Astra ada di Pulau Pramuka sebagai pilot project. Di sana, Grup Astra membina masyarakat untuk memilah sampah plastik dan mengolahnya. Bahkan, hasil olahannya itu bisa dijadikan bahan bakar kapal nelayan.
     
    "Ini salah satu solusi menarik. Di sana, selama ini sampahnya dibawa kembali ke daratan atau ke Bantargebang, Bekasi, untuk diolah di sana. Sekarang beberapa sampah palstik bisa diolah sendiri," kata Diah.
     
    Mereka melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi atau menggantikan sampah plastik. Jika masyarakat terbiasa menggunakan botol kemasan plastik, mereka diajarkan untuk menggantinya dengan tumbler atau gelas yang ada.
     
    Sampah plastik yang dihasilkan langsung dikumpulkan dan dibawa ke bank sampah. Saat ini, sudah cukup banyak anggota bank sampah di Pulau Pramuka dan sekitarnya.
     
    Menurut Diah, inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar cair untuk kapal nelayan bisa menjadi berkah. Hal ini bisa menumbuhkan kemandirian dan tentunya pertumbuhan roda perekonomian di sana.
     


    Pembudidaya Tanaman Buah Langka dari Kalimantan

     

    Jakarta: Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia atau megabiodiversitas. Sebagai megabiodiversitas, Indonesia menempati posisi kedua setelah Brasil.
     
    Meskipun menyandang status negara megabiodiversitas, hal ini tidak lantas membuat Indonesia mandiri dalam menyediakan stok pangan untuk dikonsumsi penduduknya. Misalnya, buah. Hingga saat ini Indonesia masih banyak mendatangkan buah impor.
     
    Padahal, buah impor tersebut berasal dari negara yang lahannya tidak memungkinkan untuk menghasilkan jenis buah tertentu. Mereka mengakalinya dengan mengambil sumber genetik dari negara tropis, dikembangkan, dan dijual kembali.
     
    Melihat fakta tersebut Mohammad Hanif Wicaksono terdorong untuk melakukan suatu perubahan. Pria asal Kalimantan itu tergerak mengumpulkan plasma nutfah dari buah-buah yang ada di Kalimantan untuk diteliti dan dibudidayakan.

    Grup Astra Bina Ratusan Kampung Edukasi Masyarakat Kelola Sampah 

    Jerih payah tersebut berbuah manis. Mohammad Hanif Wicaksono menerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2018 dari Astra sebagai Pembudidaya Tanaman Buah Langka.
     
    Hanif memulai langkahnya sebagai pembudidaya tanaman buah langka dengan mengumpulkan plasma nutfah dari buah-buah yang ada di Kalimantan untuk diteliti dan dibudidayakan.
     
    Sebagai informasi, plasma nutfah adalah substansi pembawa sifat keturunan yang dapat berupa organ utuh atau bagian dari tumbuhan atau hewan serta jasad renik. Plasma nutfah merupakan kekayaan alam yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pembangunan nasional.
     
    "Saya memulainya dari Kalimantan. Plasma nutfah mempunyai peran yang sangat penting sekali, baik untuk ekologi. Artinya, semakin beragam flora, juga semakin beragam faunanya," kata pria asal Kalimantan itu, dalam webinar Media Group News Summit Series bertajuk Indonesia Green Summit 202 Bergerak Selamatkan Bumi, Selasa, 27 Juli 2021.
     
    Menurut Hanif, beberapa negara kerap mengambil plasma nutfah buah dari Indonesia untuk dikembangkan lagi. Misalnya saja Amerika Serikat (AS) untuk mengembangkan mangga dan Thailand untuk mengembangkan durian. Setelah dikembangkan dengan kualitas yang lebih baik, buah-buahan tersebut mendominasi di pasaran dan konsumen mulai meninggalkan buah lokal.
     
    "Ini aneh buat saya. Kita punya plasma nutfah tapi larinya ke luar negeri. Mereka kembangkan dan kita beli," ujar Hanif.
     
    Faktor penyebab Indonesia kalah dalam hal ini lantaran masih kurang penelitian terhadap sumber daya genetik. Ditambah lagi, kondisi hutan yang mulai banyak berkurang di Kalimantan.
     
    "Sebanyak 50 persen hutan sudah alih fungsi di Kalimantan," ujarnya.

    Grup Astra Bina Ratusan Kampung Edukasi Masyarakat Kelola Sampah

    Sejauh ini, Hanif sudah mengumpulkan plasma nutfah dari lebih dari 200 jenis buah. Dari semuanya itu, dia meyakini tidak lebih dari 10 persen masyarakat mengetahui jenis buah yang dia ambil plasma nutfahnya.
     
    Kurangnya penelitian lagi-lagi menjadi faktor menurut pandangan Hanif. Masih menurut dia, saat ini para peneliti juga kerap kesulitan untuk melakukan penelitian di Kalimantan.
     
    Dalam beberapa tahun terakhir, Hanif sudah membuat kantong plasma nutfah dengan membuat desa plasma nutfah. Pembangunan desa ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
     
    Upaya Hanif dalam membangun desa plasma nutfah juga mendapatkan dukungan dari pemerintah. Dia mengaku mendapatkan bantuan khusus berupa tanaman dan buah-buahan lokal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
     
    Hanif masih berjuang dalam mengumpulkan sebanyak mungkin plasma nutfah, khususnya pada buah-buahan langka di Kalimantan. Dia memulai langkah ini dengan harapan dapat mengembalikan kembali kekayaaan hutan.
     
    "Dan kalau ada kesempatan untuk dikembangkan menjadi produk hortikultura baru, itulah keuntungan besar kita," katanya.

    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id