Perlambatan Konsumsi Bisa Menurunkan Daya Beli

    Suci Sedya Utami - 05 Februari 2020 18:26 WIB
    Perlambatan Konsumsi Bisa Menurunkan Daya Beli
    Ilustrasi daya beli. Foto : Mi/Yuniar.
    Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan perlambatan konsumsi rumah tangga patut diwaspadai, sebab bisa menjadi pertanda terhadap penurunan daya beli masyarakat.

    BPS mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal IV-2019 sebesar 4,97 persen atau lebih rendah dibanding kuartal yang sama di tahun 2018 yang sebesar 5,08 persen. Selain itu dibanding dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,01 persen juga terjadi penurunan.

    "Perlu kita waspadai, tetapi kita lihat nanti ke depannya dengan memperhatikan komonen yang naik turun bisa dilihat konsumsi rumah tangga kuartal ini memang enggak sekuat bulan sebelumnya ataupun tahun sebelumnya," kata Kepala BPS Suhariyanto di kantor BPS, Jakarta Pusat, Rabu, 5 Februari 2020.

    Dirinya menjelaskan perlambatan tersebut terefleksi pada penjualan eceran yang tumbuh 1,52 persen, melambat dibanding kuartal yang sama di tahun lalu yang tumbuh 4,73 persen. Perlambata terjadi pada penjualan eceran makanan, minuman dan tembakau.

    Selain itu penjualan grosir sepeda notor dan mobil penumpang juga terkontraksi masing-masing sebesar 5,60 persen dan 7,24 persen. Nilai transaksi uang elektronik, kartu debit dan kartu kredit tumbuh melambat sebesar 3,85 persen dibandingkan kuartal IV-2018 yang tumbuh mencapai 13,81 persen.

    "Perlambatan terjadi pada konsumsi makanan dan minuman selain restoran, pakaian alas kaki dan jasa peralatannya, transportasi dan  komunikasi," jelas dia.

    Perlambatan konsumsi juga membuat laju pertumbuhan industri pengolahan mengalami penurunan dari pertumbuhan 4,14 persen di kuartal III-2019 dan 4,25 di kuartal IV-2019 menjadi 3,66 di kuartal IV-2019.

    Industri makanan dan minuman misalnya tumbuh 7,95 persen di kuartal IV-2019. Lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 8,33 persen. Kemudian industri tekstil dan pakaian jadi juga mengalami perlambatan pertumbuhan ke level 7,17 persen dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 15,08 persen dan kuartal yang sama di 2018 sebesar 10,82 persen.

    Ia menduga terdapat perubahan pola konsumsi pakaian dari waktu ke waktu. Ia bilang tidak seperti dahulu, masyarakat kini tidak terlalu sering untuk bergonta ganti pakaian. "Bukan jadi kebutuhan utama, artinya enggak ganti-ganti seperti dulu, artinya jadi prioritas kedua," jelas Suhariyanto.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id