Memajukan Industri Perlu Inovasi

    Ilham wibowo - 14 Oktober 2019 12:45 WIB
    Memajukan Industri Perlu Inovasi
    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. FOTO: Medcom.id/Desi Angriani.
    Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah meluncurkan beragam program yang adaptif menghadapi era baru revolusi industri 4.0. Kemunculan model bisnis baru berbasis digital ini bakal dimanfaatkan guna mencapai efisiensi yang setinggi-tingginya.

    "Saya tekankan untuk berani berinovasi untuk kemajuan industri Indonesia," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat meluncurkan buku Merajut Asa, di Ruang Garuda Kemenperin, Jakarta Selatan, Senin, 14 Oktober 2019.

    Pada 2017, kata Airlangga, pihaknya telah meluncurkan Link and Match Vokasi Industri dan E-Smart IKM. Program ini menjadi begitu diapresiasi Presiden Joko Widodo bahwa SDM Indonesia sebagai program penting pada periode berikutnya.

    Kemudian pada 2018, Making Indonesia 4.0 juga telah diluncurkan sebagai arah pembangunan industri di Tanah Air. Implementasi yang sukses akan mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2 persen per tahun.

    Pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari baseline sebesar lima persen menjadi 6-7 persen pada periode 2018-2030. Dari capaian tersebut, industri manufaktur akan berkontribusi sebesar 21-26 persen terhadap PDB pada 2030.

    "Selanjutnya, pertumbuhan PDB diproyeksi akan naik secara signifikan pada ekspor netto, Indonesia diperkirakan mencapai 5-10 persen rasio ekspor netto terhadap PDB pada 2030," ungkap Airlangga.

    Selain kenaikan produktivitas, Making Indonesia 4.0 menjanjikan pembukaan lapangan pekerjaan sebanyak 17 juta orang, baik di sektor manufaktur maupun non-manufaktur pada 2030. Hal tersebut sebagai akibat dari permintaan ekspor yang lebih besar.

    Penerapan awal Industri 4.0, Indonesia akan berfokus pada lima sektor manufaktur, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, serta industri elektronik. Kelima sektor ini dipilih berdasarkan evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup kontribusi PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar.

    Dalam upaya mendukung pelaksanaan Making Indonesia 4.0, pemerintah juga tengah pengupayaan penguatan SDM melalui vokasi industri. Hal ini sangat penting guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang terampil dan kompeten sesuai kebutuhan industri.

    Melalui program link and match antara SMK dan Industri Kemenperin telah memfasilitasi kerja sama sebanyak 1.753 SMK dan 608 Industri dengan total 3.101 Perjanjian Kerja Sama (PKS) di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY, Jawa Barat, Sumatera bagian Utara, DKI Jakarta dan Banten serta Sumatera bagian Selatan.

    Airlangga menambahkan, pada 2019  kebijakan-kebijakan yang diusulkan oleh Kementerian Perindustrian mulai diimplementasikan seperti Super Deduction Tax untuk Vokasi, R&D, Industri Padat Karya dan Mobil Listrik, menyusul sebentar lagi PPnBM Kendaraan. Kebijakan-kebijakan itu diusulkan sejak dua tahun yang lalu melalui proses-proses yang berliku.

    "Dalam rangka meningkatkan daya saing industri nasional serta pengembangan industri 4.0, Pemerintah juga telah melakukan upaya-upaya antara lain dengan memberikan insentif fiskal seperti skema tax allowance serta tax holiday serta melakukan upaya mengurangi ketergantungan impor terhadap bahan baku," tuturnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id