Pemanfaatan Teknologi Bantu Kinerja Produksi Batik

    Ilham wibowo - 26 November 2019 17:27 WIB
    Pemanfaatan Teknologi Bantu Kinerja Produksi Batik
    Ilustrasi. Foto : MI/M irfan.
    Jakarta: Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi jadi penanda hadirnya era revolusi industri 4.0 untuk menjawab tantangan di tingkat produksi. Penerapannya mulai dilakukan dalam proses pembuatan kain batik lantaran peluang pasar yang terus meningkat.

    Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika, Kemenperin, Sony Sulaksono mengatakan revolusi industri 4.0 tidak hanya membawa perubahan bagi sektor industri, akan tetapi juga dalam kehidupan pada umumnya.

    “Tingginya permintaan batik akhir-akhir ini di satu sisi membuat industri pembuatan batik menjadi bergeliat lagi, namun sayangnya hal ini memiliki permasalahan tersendiri dalam hal peningkatan kapasitas produksi batik itu sendiri,” kata Sony  melalui keterangan tertulis, Selasa, 26 November 2019.

    Kendala tersebut tak lepas dari proses pembuatan batik yang panjang dan rumit serta peralatan digunakan masih terbatas baik secara teknologi maupun kemampuannya. Tantangan yang dihadapi terutama untuk peralatan produksi batik cap yang saat ini masih mengandalkan tenaga manusia dalam proses pengecapan.  

    Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) lantas menciptakan alat Cap Batik Otomatis Berbasis Programmable Logic Controller (PLC). Alat tersebut menggunakan metode otomasi pembuatan batik cap dengan fungsi canting cap dan kain digerakkan secara bergantian menggunakan pneumatik berbasis kontrol Programmable Logic Controller.

    “Teknologi perekayasaan alat batik cap berbasis otomasi ini bermanfat untuk meningkatkan kapasitas, efisiensi produksi serta peningkatan kualitas batik cap,”  tutur Kepala BBKB Kemenperin, Titik Purwati Widowati.

    Titik berharap diciptakannya alat tersebut mampu membantu para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan dapat berkolaborasi. Kerja sama dengan BBKB pun bisa terus dilakukan untuk dapat meningkatkan kapasitas produksinya yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing IKM Batik.

    “Penggunaan teknologi untuk otomasi batik cap ini diharapkan dapat menjadi teknologi yang handal dan memiliki ketahanan yang tinggi dalam penggunaan untuk produksi skala massal,” tegasnya.

    Selain menciptakan inovasi mesin batik cap otomatis, balai-balai Kemenperin juga sudah menciptakan berbagai inovasi lainnya, misalnya ada lima unit balai penelitian dan pengembangan industri di Bandung. Fasilitas ini telah lama berkiprah dalam menciptakan inovasi dan riset yang dibutuhkan industri dan memberikan layanan teknis kepada masyarakat.

    Balai-balai yang dimaksud adalah, Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T), Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM), Balai Besar Tekstil (BBT), Balai Besar Keramik (BBK), serta Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK).

    Adapun inovasi-inovasi yang telah dihasilkan, antara lain litbangyasa pengembangan Baterai dan Blok Rem Kereta Api oleh B4T, kemudian pembuatan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Dobby, Geotextile, dan serat tekstil berbasis sabut kelapa oleh BBT, serta menciptakan tapak roda (tracklink) model single dan double pin untuk kendaraan tempur tank yang telah dipatenkan oleh BBLM.

    Inovasi lainnya juga pada alat Ketel Minyak Kayu Putih Baristand Industri Ambonatau disingkat Si Telmi Biam yang terpilih masuk dalam kategori Top 45 Inovasi Pelayanan Publik 2019. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id