Kemenperin Fokuskan Industri Pengolahan untuk Perbaiki Neraca Dagang

    Ilham wibowo - 16 Januari 2020 18:18 WIB
    Kemenperin Fokuskan Industri Pengolahan untuk Perbaiki Neraca Dagang
    Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: dok Kemenperin.
    Jakarta: Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan pihaknya fokus untuk meningkatkan kinerja ekspor. Kinerja industri pengolahan diproyeksikan terus tumbuh memangkas defisit neraca perdagangan.

    Kemenperin mencatat, industri pengolahan masih konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional. Pada Januari-Desember 2019, ekspor produk industri pengolahan mampu menembus hingga USD126,57 miliar atau menyumbang sebesar 75,5 persen terhadap total ekspor Indonesia yang menyentuh di angka USD167,53 miliar sepanjang tahun lalu.

    “Pemerintah memang sedang fokus menggenjot nilai ekspor untuk memperbaiki neraca perdagangan kita. Oleh karena itu, sektor manufaktur memiliki peranan yang sangat penting guna mencapai sasaran tersebut," kata Agus melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 16 Januari 2020.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lima sektor yang memberikan sumbangsih paling besar terhadap capaian nilai ekspor industri pengolahan sepanjang 2019, yaitu industri makanan yang menyetor hingga USD27,16 miliar atau berkontribusi sebesar 21,46 persen. Selanjutnya diikuti oleh industri logam dasar USD17,37 miliar atau 13,72 persen.

    Berikutnya, nilai pengapalan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia tercatat USD12,65 miliar (10 persen), industri pakaian jadi menembus USD8,3 miliar (6,56 persen), serta industri kertas dan barang dari kertas yang menyetor USD7,27 miliar (5,74 persen).

    Adapun lima negara tujuan utama ekspor produk manufaktur Indonesia pada periode Januari-Desember 2019, yakni ke Amerika Serikat (13,64 persen), Tiongkok (13,48 persen), Jepang (8,7 persen), Singapura (6,94 persen), dan India (5,17 persen).

    “Pemerintah terus berupaya memperluas pasar ekspor, terutama ke negara-negara nontradisional,” tegas Agus.

    Agus menyebutkan, berbagai langkah strategis telah dijalankan oleh Kementerian Perindustrian dalam upaya meningkatkan nilai ekspor dari sektor industri pengolahan. Upaya itu di antaranya adalah pembinaan industri melalui peningkatan daya saing dan penyiapan produk unggulan.

    “Kemudian, pemanfaatan free trade agreement (FTA) seperti percepatan negosiasi FTA, perluasan ke pasar nontradisional, dan inisiasi FTA bilateral sesuai kebutuhan industri," paparnya.

    Di samping itu, dilaksanakan program promosi internasional melalui pendampingan promosi dan ekspor, peningkatan kapasitas produsen untuk ekspor, serta melakukan link and match dengan jejaring produksi global. “Perlu juga dukungan fasilitas seperti fasilitasi pembiayaan ekspor, pendampingan kasus unfair trading, dan penurunan hambatan ekspor (NTMs),” imbuhnya.

    Menperin menambahkan, Indonesia sebagai official partner country pada ajang Hannover Messe 2020, bisa menjadi momentum baik untuk memperkenalkan kesiapan industri Indonesia di era industri 4.0, mempromosikan kerja sama investasi dan ekspor sektor industri, serta memperkuat kerja sama bilateral dengan Jerman maupun dengan negara-negara lain yang berorientasi pada inovasi teknologi.

    “Ajang ini penting untuk Indonesia tidak hanya karena sebagai negara pertama di ASEAN yang menjadi Official Partner Country, tetapi juga mendukung upaya national branding atas posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru ekonomi dunia dan pemain manufaktur global,” pungkasnya.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id