Gaprindo: Kenaikan Cukai Kian Menghimpit Industri Tembakau

    Husen Miftahudin - 17 September 2019 18:06 WIB
    Gaprindo: Kenaikan Cukai Kian Menghimpit Industri Tembakau
    Ilustrasi tembakau. FOTO: Medcom.id.
    Jakarta: Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) menyatakan keberatan atas kenaikan cukai rokok 25 persen dan harga jual eceran (HJE) rokok sebesar 35 persen per tahun depan. Kenaikan tarif cukai tersebut dirasa bakal menghimpit kinerja industri hasil tembakau.

    "Kami tidak akan memiliki ruang bergerak yang cukup untuk menciptakan inovasi produk yang diperlukan untuk menghidupkan industri ini," kata Ketua Gaprindo Muhaimin Moeftie dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 17 September 2019.

    Lebih jauh, ungkapnya, peredaran produk-produk rokok ilegal bakal meningkat drastis. Moeftie berkaca kejadian yang dialami negara tetangga, Malaysia. Pada 2015, Negeri Jiran itu menaikkan cukai rokok sekitar 43 persen.

    "Akibatnya rokok ilegal meningkat drastis menjadi lebih kurang 60 persen. Akibatnya, penerimaan menurun karena jumlah pembelian pita cukai merosot tajam," tutur dia.

    Moeftie meminta pemerintah menimbang dan mengkaji ulang kenaikan cukai rokok tersebut. Pasalnya, industri hasil tembakau memberi penghidupan pada petani tembakau, petani cengkeh, dan para pekerja yang jumlahnya mencapai jutaan orang.

    Bagi petani, cukai yang kian tinggi dan penjualan yang menurun menyebabkan kebutuhan bahan baku berkurang. Akibatnya, para petani akan merugi karena tembakau serta cengkeh yang mereka hasilkan tidak terserap. Bagi para pekerja, penurunan volume produksi berarti meningkatkan potensi pemutusan hak kerja (PHK).

    Menurut Moeftie, menaikkan tarif cukai dan HJE secara drastis belum tentu mampu mengurangi prevalensi perokok, terutama kalangan anak dan perempuan. Meski berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), keseluruhan prevalensi merokok menunjukkan tren penurunan, dari 36,3 persen pada 2013 menjadi 33,8 persen pada 2018.

    Di sisi lain, industri rokok nasional mengalami tren stagnan bahkan cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2016, pertumbuhan produksi terus negatif setiap tahunnya dengan kisaran rata-rata minus satu hingga minus dua persen.

    "Bahkan di 2018 hanya tersisa 456 pabrikan dari 1.000 pabrik rokok yang ada di 2012," ucap Moeftie.

    Di samping itu ia melihat kecenderungan pasar yang kian sensitif terhadap harga. Mayoritas konsumen lebih memilih rokok-rokok value for money dengan kisaran harga Rp15 ribu hingga Rp20 ribu.

    "Kami berharap pemerintah mau berdiskusi tentang upaya bersama untuk mendorong pengendalian konsumsi sesuai aturan yang berlaku. Namun, hendaknya hal ini dapat dilakukan tanpa melakukan langkah ekstrim yang dapat mengancam keberlangsungan industri hasil tembakau," pungkas Moeftie.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id