Agen Asuransi Jiwa Didorong Naik Level ke MDRT

    Husen Miftahudin - 23 Juli 2019 15:11 WIB
    Agen Asuransi Jiwa Didorong Naik Level ke MDRT
    Ketua Umum AAJI, Budi Tampubolon, Medcom/Husen Miftahudin.
    Jakarta: Profesi keagenan masih menjadi andalan industri asuransi jiwa untuk mendulang pendapatan. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pun pernah mematok target untuk mencetak 10 juta agen.

    Kendati realisasinya, jumlah agen asuransi jiwa masih mengalami pasang surut. Pertumbuhan kuartal pertama 2019 saja hanya 0,5 persen (year on year) menjadi 595.192 ribu agen berlisensi.

    Menurut Ketua Umum AAJI, Budi Tampubolon, proses rekrutmen agen asuransi jiwa sejatinya berjalan ke arah target 10 juta agen. Sebab setiap tahun selain agen yang tersertifikasi, ada pula jumlah agen yang sudah mendaftar untuk disertifikasi namun belum lolos seleksi. 

    "Jadi yang belum lulus atau terdeterminasi itu banyak juga angkanya mungkin jutaan kalau digabung dari tahun-tahun sebelumnya. Tetapi ini bukan hal yang jelek, tetap ada hal positifnya. Mereka yang tersertifikasi dan juga terdeterminasi itu sudah memiliki pemahaman yang baik tentang asuransi sehingga diharapkan di kemudian hari tidak menutup kemungkinan mereka kembali aktif," ujar Budi dalam konferensi pers di Rumah AAJI, Jalan Talang Betutu, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Juli 2019. 

    Budi menjelaskan saat ini agen asuransi sudah meninggalkan status 'sales' dan telah menjadi profesi pendamping nasabah dalam membuat perencanaan keuangan (financial planner). 

    Oleh karena itu AAJI terus meningkatkan kompetensinya dengan mendorong para agen asuransi untuk masuk dalam Million Dollar Round Table (MDRT), komunitas agen asuransi jiwa berlisensi global.

    "Komunitas MDRT tumbuh 30 persen dalam dua tahun terakhir. Perannya sangat besar bagi pertumbuhan industri asuransi jiwa," tutur Budi.

    Sementara, Country Chair MDRT Indonesia Glen Alexander Winata mengungkapkan per Juli 2019, jumlah anggota MDRT Indonesia sebanyak 2.459 orang. Dengan jumlah ini, MDRT Indonesia tahun ini masuk dalam urutan ke 10 top member seluruh dunia, dan nomor tiga di Asia Tenggara, di bawah Thailand dan Vietnam.

    Sepuluh besar negara dengan jumlah anggota MDRT terbesar antara lain Tiongkok dengan jumlah 18.022, diikuti Hong Kong 11.701, Amerika Serikat 7.871, Jepang 7.028, Taiwan 3.773, India 3.214, Korea Selatan 2.750, Thailand 2.622, Vietnam 2.549, Indonesia 2.459.

    Menurut Glen, posisi anggota MDRT Indonesia masih kalah dari Thailand dan Vietnam lantaran di dua negara tersebut sejumlah perusahaan papan atas telah menjadikan MDRT sebagai standar kualifikasi dan kompetensi agennya. Tidak demikian dengan Indonesia.

    Dibandingkan dengan jumlah agen asuransi di Indonesia, jumlah agen MDRT Indonesia hanya 0,5 persen dibandingkan dengan jumlah agen yang ada saat ini sebanyak 600 ribu.

    "Jadi kami bersama AAJI mendorong MDRT bisa dijadikan panduan kualifikasi standar keagenan untuk perusahaan asuransi jiwa di Indonesia. Kita optimistis untuk tahun 2020 dapat mencapai lebih dari 3.000 member MDRT Indonesia," tegas Glen.

    Adapun untuk menjadi anggota MDRT, seorang agen asuransi perlu mengantongi premi dari penjualan pribadi sebesar Rp583.443.600, akumulasi premi pertama per tahun. 

    Sementara itu, untuk masuk ke dalam kualifikasi yang lebih tinggi yakni Court of The Table (COT) dan Top of The Table (TOT), seorang agen harus mengumpulkan premi masing-masing sebesar Rp1.750.330.800 (3 kali MDRT) dan Rp3.500.661.600 (6 kali MDRT) per tahun.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id