Kurangnya Keterbukaan Perdagangan Buat RI Kebal Resesi

    Nia Deviyana - 26 November 2019 20:17 WIB
    Kurangnya Keterbukaan Perdagangan Buat RI Kebal Resesi
    Ilustrasi ekspor indoneia. Foto : MI/Ramdani.
    Jakarta: Salah satu indikator yang menunjukkan kerentanan perekonomian suatu negara terhadap kondisi global adalah tingkat keterbukaan perdagangan atau trade openness.

    Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan menuturkan semakin tinggi keterbukaan perdagangan suatu negara, maka semakin rentan negara tersebut terhadap dampak tekanan ekonomi global dan semakin besar kemungkinan mengalami resesi.

    "Sebagai contoh negara-negara dengan tingkat keterbukaan perdagangan besar yaitu Singapura, Meksiko, dan Thailand mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan," ujarnya saat mengisi diskusi di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa, 26 November 2019.

    Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlalu terdampak karena tingkat keterbukaan perdagangannya relatif masih rendah.  Namun, imbas ketidakpastian global dan menurunnya permintaan dunia membuat total ekspor Indonesia periode Januari-Oktober 2019 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Total ekspor Indonesia, secara kumulatif, menurun dari USD150,9 miliar selama Januari-Oktober 2018 menjadi USD139,1 miliar pada periode bulan yang sama pada 2019. Sedangkan total impor Indonesia selama Januari-Oktober 2019 tercatat USD140,9 miliar.

    "Sehingga Indonesia masih mencatat defisit neraca perdagangan sebesar USD1,8 miliar," tukasnya.

    Akan tetapi, bila diamati dengan teliti, kata Kasan, defisit neraca perdagangan Indonesia menunjukkan perbaikan pada 2019, dari USD5,6 miliar pada Januari-Oktober 2018, menjadi USD1,8 miliar pada periode yang sama tahun ini. Hal ini menunjukkan Indonesia masih stabil dalam merespons pelemahan ekonomi global.

    Selain itu, di tengah penurunan ekspor nonmigas periode Januari-Oktober 2019, ekspor ke beberapa pasar utama tujuan ekspor utama masih mengalami kenaikan, antara lain Vietnam naik 14,9 persen, Taiwan naik 5,7 persen, Singapura naik 3,4 persen, dan RRT naik 2,0 persen.

    Produk utama ekspor yang mengalami peningkatan selama Januari-Oktober 2019 antara lain besi dan baja naik 31,6 persen, perhiasan atau permata naik 18,5 persen, serta kendaraan dan bagiannya yang naik 10,1 persen. Sementara, 91 persen dari total impor Indonesia adalah berupa barang modal dan bahan baku, 74 persen adalah bahan baku dan 17 persen adalah barang modal.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id