OJK Harus Utamakan Perlindungan Investor Tata Industri Keuangan

    Media Indonesia - 02 Desember 2019 06:52 WIB
    OJK Harus Utamakan Perlindungan Investor Tata Industri Keuangan
    Ilustrasi Gedung OJK. FOTO: MI/Ramdani.
    Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diimbau mengedepankan fungsi pembinaan dan pengawasan yang baik terhadap industri jasa keuangan. Keputusan yang terlalu keras kepada perusahaan manajer investasi (MI) yang dinilai menyimpang harus mempertimbangkan perlindungan kepada investor agar tidak merusak kepercayaan pasar.

    "Jangan sampai ke depan, keputusan yang diambil pihak Otoritas Jasa Keuangan menyebabkan nasabah merasa dirugikan," kata Ketua Komisi XI DPR RI, Dito Ganinduto, kepada wartawan di Jakarta, Minggu, 1 Desember 2019.

    Politikus Partai Golkar menyerukan hal itu menanggapi kasus penutupan enam reksa dana (RD) milik Minna Padi Aset Manajemen (MPAM). Keputusan ini dinilai berbagai kalangan tidak tepat. Pasalnya, keputusan tersebut dapat merugikan nasabah.

    Penutupan ini dilakukan ketika OJK menemukan dua reksa dana yang dikelola perseroan dijual dengan janji return pasti (fixed return) masing-masing 11 persen antara waktu 6-12 bulan.

    "Untuk masa mendatang, pengawasan harus lebih intensif lagi. Jangan langsung mengambil keputusan yang agak ekstrem. Bisa diperingatkan dulu dan lain-lain secara bertahap. Jangan sampai merusak kepercayaan masyarakat untuk berinvestasi di sektor keuangan," kata Dito.

    Sementara itu, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee juga mengkritik keputusan OJK. Ia mengatakan seharusnya OJK lebih memberikan pengarahan ke perusahaan terkait, dengan perbaikan tata kelola perusahaan terlebih dahulu.

    Pasalnya, jika melihat kasus ini, kesalahan ada di sisi marketing dengan janji return pasti (fixed return) kepada reksa dana saham. Di sisi lain, dengan adanya sanksi keras, membuat kondisi pasar saat ini semakin bergejolak.

    "Kalau langsung ditutup, otomatis kembali lagi yang dirugikan nasabah. Misalnya, nilai aktiva bersih (NAB) nasabah pada saat masuk nilainya ada di 1.500. Namun, pas ditutup di 1.200. Lagi-lagi yang dirugikan nasabah," jelas Hans.

    Sekadar informasi, MPAM sempat menyebutkan akan memulai proses penjualan portofolio efek baik dalam bentuk saham, obligasi, dan deposito dari enam produk reksa dana miliknya yang telah dibubarkan sejak 21 November 2019. Manajemen MPAM menyebutkan akan melakukan penghitungan nilai aktiva bersih (NAB) setelah portofolio terjual.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id