Dampak Virus Korona Lebih Besar Ketimbang Brexit

    Ilham wibowo - 11 Februari 2020 14:51 WIB
    Dampak Virus Korona Lebih Besar Ketimbang Brexit
    Ilustrasi Virus Korona. Foto : AFP.
    Jakarta: Ketidakpastian global yang semakin mengkhawatirkan sejak awal 2020 tidak pernah diprediksi muncul dari penyebaran virus korona di Tiongkok. Terhambatnya aktivitas di negara kedua terbesar di dunia ini dipastikan memangkas lebih signifikan pertumbuhan ekonomi global. 

    Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan kekhawatiran pelemahan ekonomi global sebelumnya hanya memperhatikan tensi perang dagang Tiongkok dan Amerika Serikat untuk proyeksi ekonomi 2020. Para peneliti ekonomi juga hanya mengaitkan hambatan tersebut dengan beberapa isu internasional lain seperti konflik Iran dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

    "Awal tahun ini ketidakpastian ekonomi global bertambah, sebut saja konflik Iran lalu Brexit tapi yang dampaknya paling besar adalah wabah virus korona ini," kata Faisal ditemui di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Februari 2020.

    Realisasi Brexit sebelumnya diprediksi bisa menyebabkan guncangan di sektor keuangan. Selama ini Inggris merupakan pusat keuangan global, sehingga Brexit akan mengubah image pelaku pasar. Terpisahnya Inggris dari Eropa secara ekonomi juga akan mempengaruhi jalannya rantai pasok yang akan menyebabkan ketidakpastian bagi eksportir.

    Menurut Faisal, dampak virus korona terhadap perekonomian global saat ini lebih mengkhawatirkan karena menyangkut negara yang perdagangannya berpengaruh paling besar di dunia. Turunnya pertumbuhan PDB yang dialami Tiongkok sebesar satu persen bahkan bisa langsung dirasakan oleh negara mitranya seperti Indonesia yang PDB-nya bisa terpangkas hingga 0,2 persen.

    "Dari Kemendag memprediksi mungkin 0,23 persen dan saya lebih sepakat (terpangkas) ke 0,2 persen," ungkapnya.

    Penyebaran virus korona jadi fokus utama di berbagai negara yang bermitra dengan Tiongkok. Negara di berbagai belahan dunia lainnya juga ikut memperhatikan wabah yang telah menjangkiti 41 ribu orang dan merenggut lebih dari 800 nyawa dalam tempo yang cukup cepat.

    "Ada kemungkinan bisa sampai satu tahun, tergantung bagaimana  mengantisipasinya, saya pikir tidak ada yang bisa memprediksikan secara pasti," ungkapnya.

    (SAW)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id