BTN Tetap Optimistis di Tengah Tekanan Ekonomi Global

    Eko Nordiansyah - 04 Februari 2020 11:03 WIB
    BTN Tetap Optimistis di Tengah Tekanan Ekonomi Global
    Direktur Utama BTN Pahala N Mansury. FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah
    Jakarta: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN memilih langkah hati-hati di tahun tikus logam, mengingat kondisi geopolitik dan ekonomi yang masih belum menentu. Kendati demikian, BTN tetap akan berfokus di sektor perumahan yang memiliki dampak positif lanjutan ke perekonomian Indonesia.

    Direktur Utama BTN Pahala N Mansury menuturkan di 2019 bukan tahun yang mudah karena berbagai faktor telah membuat ekonomi global bergejolak yang berdampak pada ekonomi nasional dan masih terus berlanjut di 2020. Faktor tersebut menjadi pertimbangan BTN di tahun kabisat ini.

    "Tahun ini kami memasang target konservatif pertumbuhan kredit di 10 persen. Pasalnya, kami terus memantau perkembangan ekonomi global dan nasional, serta daya beli masyarakat pada 2020," kata Pahala dalam BTN Market Outlook 2020 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia menjawab Ketidakpastian Global di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Senin malam, 3 Februari 2020.

    Berbagai peristiwa telah meningkatkan ketidakpastian global. Di antaranya, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang berpotensi berlanjut meski kesepakatan phase I telah ditandatangani. Kemudian masa depan Inggris usai resmi hengkang dari Uni Eropa, ketegangan antara AS dan Iran, hingga penyebaran virus korona di Tiongkok.

    Menurut Pahala kondisi perekonomian global tersebut belum mampu mendorong volume perdagangan global. Akibatnya, harga komoditas global belum terakselerasi. Padahal, banyak provinsi di Indonesia yang masih bergantung pada komoditas sehingga dampaknya akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

    Dengan kondisi ekonomi tersebut, BTN tetap akan fokus pada bisnis utama yakni perumahan. BTN, tambah dia, akan memaksimalkan penggarapan sektor perumahan di berbagai sentra ekonomi daerah di Tanah Air, namun tetap memerhatikan perkembangan di daerah yang terdampak penurunan harga komoditas.

    "Fokus perseroan pada sektor perumahan juga sejalan dengan masifnya pembangunan infrastruktur di seluruh nusantara. Langkah perseroan mempertahankan fokus ke perumahan juga digelar mengingat sektor ini memiliki multiplier effect bagi 170 industri terkait lainnya," jelas dia.

    Sektor perumahan dipandang masih memiliki ruang gerak yang cukup luas di Indonesia. Sebab, gap antara kebutuhan rumah baru dengan kapasitas bangun para pengembang masih tinggi. Belum lagi, masih banyak Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan di bawah MBR yang unbankable.

    "Kontribusi sektor perumahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia baru mencapai tiga persen, artinya masih besar peluang untuk mengakselerasi industri ini. Apalagi sektor ini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang," pungkasnya.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id