Kepala Bappenas Sebut Indonesia Negara Setengah Maju

    Husen Miftahudin - 24 Februari 2020 14:52 WIB
    Kepala Bappenas Sebut Indonesia Negara Setengah Maju
    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa. Foto : MI.
    Jakarta: Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa menganggap Indonesia masuk dalam kategori negara setengah maju. Pernyataan Suharso menjawab status anyar RI yang disematkan Amerika Serikat (AS) melalui Kantor Perwakilan Perdagangan atau Office of the US Trade Representative (USTR) di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menjadi negara maju.

    Suharso berpandangan Indonesia saat ini berada pada negara berpendapatan menengah ke atas alias upper middle income. Ini sesuai syarat klasifikasi negara yang dinilai berdasarkan rata-rata pendapatan nasional atau Gross National Income (GNI) oleh World Bank.

    Menurut World Bank, negara maju alias high income country punya GNI di atas USD12.055 per kapita per tahun. Negara dengan GNI antara USD3.896 hingga USD12.055 per kapita per tahun disebut upper middle income, sementara negara dengan GNI USD996 sampai USD3.895 per kapita per tahun disebut lower middle income, dan negara dengan GNI kurang dari USD996 per kapita per tahun adalah low income country.

    Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2017 sebesar Rp51,9 juta atau setara USD3.877. Angka itu kemudian mengalami kenaikan pada 2018 menjadi sebesar Rp56 juta atau setara USD3.927,2. Dan naik lagi menjadi Rp59,1 juta atau USD4.174,9 pada 2019.

    "Sebenarnya Indonesia sekarang di upper middle income. Karena dia masuk di upper middle income menurut kategori itu Indonesia sudah masuk ke kategori negara setengah maju," ujar Suharso di Hotel Mandarin, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin, 24 Februari 2020.

    Suharso pun yakin Indonesia masih masuk dalam kategori negara berkembang. Meskipun berpendapatan menengah ke atas, namun tetap saja Indonesia masuk dalam klasifikasi negara berpendapatan menengah atau middle income.

    Sebenarnya Suharso bangga status 'negara maju' yang diberikan AS untuk Indonesia. Namun diakuinya status ini juga menjadi bumerang bagi Indonesia yang kini masih bergantung pada negara-negara maju dunia.

    "Saya kira kita musti bicara lagi dengan Amerika Serikat. Kita bangga, tetapi kita juga perlu bantuan mereka (AS dan negara-negara maju lainnya)," tutur dia.

    Maklum, jelas Suharso, negara maju bakal kehilangan fasilitas-fasilitas murah bagi perdagangan internasionalnya. Apalagi Indonesia masih bergantung pada ekspor komoditas yang menjadi sumber terbesar pendapatan negara.

    "Jadi karena masuk di negara maju, dia tidak dalam posisi mendapatkan fasilitas-fasilitas yang lebih murah, jangka panjang, dan seterusnya. Di sisi lain, (status negara maju) lebih melancarkan investasi (masuk)," pungkas Suharso.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id