5 BUMN Berhasil Direstrukturisasi

    Desi Angriani - 29 Januari 2020 19:50 WIB
    5 BUMN Berhasil Direstrukturisasi
    Ilustrasi gedung Kementerian BUMN. FOTO: dok Kementerian BUMN
    Jakarta: Puluhan perusahaan BUMN tercatat merugi alias tidak mencatatkan kinerja keuangan dengan baik. Pada 2015 sampai 2016 terdapat delapan BUMN yang sakit dan 33 BUMN meraih laba.

    Pada 2017, BUMN yang meraih laba meningkat menjadi 38 perseroan dan tiga BUMN mencatatkan pertumbuhan negatif. Namun jumlah BUMN yang meraih untung di 2018 kembali turun menjadi 34 perseroan dan tujuh BUMN kinerja keuangannya merosot.

    Berbagai upaya penyehatan dilakukan pemerintah melalui opsi restrukturisasi. Di antaranya, melibatkan Penyertaan Modal Negara (PMN), opsi menarik investor strategis hingga melakukan holdingisasi BUMN.

    Berikut lima perusahaan yang sudah mendapatkan upaya penyelamatan:

    1. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk

    Krakatau Steel membukukan rugi sebesar USD77 juta atau senilai Rp1,08 triliun pada 2018. Perseroan selama tujuh tahun terakhir sudah tidak meraup untung dari penjualan baja. Hal ini dikarenakan biaya produksi baja yang tinggi serta masifnya impor baja murah dari Tiongkok.

    Perusahaan dengan kode emiten KRAS itu akhirnya merestrukturisasi bisnis anak usahanya senilai USD2,2 miliar atau sekitar Rp31 triliun. Restrukturisasi tersebut melibatkan PT Perusahaan Pengelola Aset/PPA (Persero) dalam satu induk atau holding.

    Proyek restrukturisasi utang ini berlangung selama sembilan tahun sejak 2019 hingga 2027. Restrukturisasi utang ini melibatkan 10 bank nasional, swasta nasional dan swasta asing.

    Kesepuluh bank tersebut, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank ICBC Indonesia. Kemudian ada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau Indonesia Eximbank, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank DBS Indonesia, dan PT Bank OCBC NISP Tbk.

    Melalui restrukturisasi, beban bunga dan kewajiban pembayaran pokok pinjaman menjadi lebih ringan sehingga membantu perbaikan kinerja perusahaan dan memperkuat cashflow perusahaan.


    2. PT Waskita Karya

    Emiten konstruksi itu sempat mengalami defisit anggaran akibat kelebihan pencatatan pada laporan keuangan periode 2004-2007. Akibat kejadian itu, Kementerian Negara BUMN menonaktifkan dua direksi dan satu mantan direksi Waskita.

    Wakita mendapat suntikan dana sebesar Rp475 miliar dari PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) untuk menyelamatkan kinerja perseroan.

    Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani menggelontorkan dana Rp200 miliar untuk menyelamatkan Waskita Karya. Hanya dalam waktu sembilan tahun, Waskita Karya mampu mencetak laba Rp4,27 triliun di 2018 dan menjadi salah satu pemain besar di sektor konstruksi.

    Perseroan banyak mengandalkan kontrak dari sesama BUMN atau BUMD dan swasta. Terdapat pula proyek pembangunan, jembatan, danw aduk dengan nilai Rp1,5 triliun.

    Pada 2015, Waskita kembali mendapat penambahan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp3,5 triliun. Penambahan PMN kepada PT Waskita Karya dilakukan dengan pertimbangan untuk meningkatkan struktur permodalan dan meningkatkan kapasitas usaha BUMN karya tersebut.


    3. PT Djakarta Llyod (Persero)

    BUMN yang bergerak di bidang pelayaran ini sempat divonis mati pada 2011 lalu. Perseroan tak mendapat penghasilan karena armada kapal yang rusak dan sebagian disita pengadilan.

    Perseroan sempat digugat pailit oleh NV De Indonesische Overzeese Bank atau Indover Bank tahun lalu, karena menunggak sejumlah utang.

    Utang Djakarta Llyod mencapai Rp3,6 triliun, yang terdiri dari Rp2,4 triliun utang SLA (Sub Loan Agreement) dan Rp1,2 triliun utang kepada lebih dari 200 kreditur dan rekanan dari dalam maupun luar negeri.

    Penyelamatan Djakarta Llyod cara sinergi BUMN, penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dan likuidasi. PT PLN (Persero) menyelamatkan bisnis BUMN pelayaran yang lesu itu dengan memberikan kontrak pengangkutan batubara sebanyak lima juta ton dari total kontrak PLN sebanyak 30 juta ton batu bara untuk memasok pembangkit listrik.

    Setelah melalui hantaman badai itu, Djakarta Lloyd mampu mencatatkan pertumbuhan signifikan pada 2017 dengan laba bersih Rp36,6 miliar atau meningkat dari laba 2016 yang sebesar Rp29,7 miliar.

    Catatan laba bersih kembali naik dua kali lipat di 2018 sebesar Rp54,88 miliar dari Rp36,89 miliar. Dari sisi pendapatan (revenue), perseroan berhasil membukukan Rp548,49 miliar pada 2017.

    4. PT PAL Indonesia

    Produsen kapal selam buatan Indonesia ini membukukan kerugian akibat beban masa lalu sebesar Rp45,3 miliar di 2017. Jumlah itu meningkat menjadi Rp304,1 miliar di 2018.
     
    Hal tersebut diakibatkan oleh beban bunga pinjaman restrukturisasi pada 2005-2010 lalu. Pembiayaan tersebut bermasalah lantaran naiknya harga bahan baku baja dunia pada 2008, serta kerugian yang disebabkan beban pajak tangguhan.
     
    Sementara beban bunga pinjaman yang harus ditanggung rata-rata mencapai Rp82 miliar per tahun, sedangkan pajak tangguhan akibat rugi fiskal yang harus dibuku rata-rata sekitar Rp58 miliar per tahun selama tiga tahun terakhir.

    Dalam upaya penyelamatan perusahaan pelat merah yang bergerak di industri alutsista ini, pemerintah menyuntik dana sebesar Rp1,5 triliun melalui PMN. Jumlah tersebut separuh dari usulan dalam RAPBN 2015 yang sebesar Rp2,5 triliun.

    Upaya tersebut berhasil membuat kinerja perseroan meningkat signifikan. PT PAL membukukan kontrak hingga November 2019 sebesar Rp8,7 triliun. Kenaikan perolehan order atau kontrak yang tercatat di 2016 sebesar Rp1,1 triliun meningkat menjadi Rp2,2 triliun di 2017 dan Rp4,1 triliun di 2018.

    5. PT Nindya Karya (Persero)

    Perusahaan yang bergerak pada usaha jasa konstruksi ini mencatatkan rugi Rp6,42 miliar. Selama proses restrukturisasi, PPA melakukan penambahan modal dalam bentuk dana talangan kepada Nindya Karya sebesar Rp500 miliar.

    Dari hasil penyehatan tersebut, kondisi PT Nindya Karya semakin membaik. Hal ini ditandai dengan nilai ekuitas dari tahun 2010 yang negatif Rp317 miliar menjadi positif Rp208 miliar.

    Tingkat kepercayaan diri dari perbankan pulih sehingga beban bunga dari rata-rata di atas 12 persen menjadi 10 persen serta tidak ada hambatan dalam mengikuti tender.

    Pada 2016 Nindya Karya membukukan pendapatan sebesar Rp4,6 triliun dengan laba sekitar Rp180 miliar. Kontrak baru yang diraih perusahaan juga terus melonjak yang ditargetkan mencapai sekitar Rp10 triliun pada 2017.

    Berbagai macam proyek telah dikerjakan PT Nindya Karya di antaranya pembangunan irigasi dan bendungan, dermaga, bangunan industri dan EPC, bandara, rumah sakit, apartemen dan hotel, bangunan komersial, jalan raya dan tol, jalan layang dan jembatan, bangunan olahraga, bangunan pendidikan, dan berbagai bangunan komersial lainnya.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id