Toyota Apresiasi Pemerintah RI Jaga Iklim Investasi Kondusif

    Ade Hapsari Lestarini - 30 Mei 2019 14:18 WIB
    Toyota Apresiasi Pemerintah RI Jaga Iklim Investasi Kondusif
    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
    Jakarta: Perusahaan Jepang Toyota Motor Corporation mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang telah sukses menyelenggarakan Pemilihan Umum 2019 dan mampu menjaga iklim investasi yang kondusif.

    "Mereka juga menyampaikan komitmennya terhadap pengembangan industri otomotif di Indonesia," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto seusai melakukan pertemuan dengan jajaran direksi Toyota, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis, 30 Mei 2019.

    Menurut Airlangga, dengan kemampuan yang telah dimiliki Indonesia, sejumlah produsen otomotif skala global sedang merencanakan persiapan untuk peluncuran kendaraan listrik di Indonesia dalam waktu dekat.

    "Bahkan, dengan kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah, cukup mengompensasi perbedaan harga antara kendaraan listrik dengan kendaraan internal combustion engine (ICE) yang ada sekarang," imbuhnya.

    Perbedaan harga itu diyakini mampu mendorong sebagian konsumen untuk beralih dari yang sebelumnya menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik. Sebab, akan ada keuntungan bagi pengguna kendaraan listrik, terutama efisiensi terhadap konsumsi bensin.

    "Apalagi, ada hybrid car itu yang sampai hemat 50 persen. Selain itu, adanya kemudahan dari maintenance dari kendaraan-kendaraan berbasis elektrik,"ungkapnya.

    Menperin juga mengunjungi pabrik baterai EVE di Hamamatsu. Dari kunjungan itu, Airlangga melihat, Indonesia punya potensi besar dalam penyediaan bahan bakunya. Sebab, Indonesia akan memiliki pabrik yang memproduksi material energi baru dari nikel laterit.

    Potensi itu misalnya melalui investasi PT QMB New Energy Materials di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, yang ditargetkan bakal beroperasi pada pertengahan 2020. Total investasi yang ditanamkan sebesar USD700 juta dan akan menghasilkan devisa senilai USD800 juta per tahun.

    "Proyek industri smelter berbasis teknologi hydrometallurgy tersebut akan memenuhi kebutuhan bahan baku baterai lithium generasi kedua nikel kobalt yang dapat digunakan untuk kendaraan listrik," paparnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id