LSM Soroti Ketersediaan Jagung

    Cindy - 29 Januari 2019 06:15 WIB
    LSM Soroti Ketersediaan Jagung
    Ilustrasi petani jagung. (Foto: MI/Bagus).
    Jakarta: Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menyoroti persoalan ketersediaan jagung untuk pakan ternak di berbagai daerah. Harga pakan dinilai semakin mahal dan produksi menurun. 

    "Permasalahan ketidaktersediaan jagung telah membuat banyak peternak layer, dan broiler menderita akibat mahalnya harga pangan dan menurunnya produksi mereka," kata Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika dikutip dari Antara, Selasa, 29 Januari 2019. 

    Dia menambahkan, perlunya program advokasi peternak untuk mengevaluasi berbagai kebijakan terkait ketersediaan jagung. 

    Sementara itu, Presidium Agri Watch Dean Novel menilai perlu ada pembenahan sektor pangan,terutama jagung.

    "Satu hektare lahan membutuhkan benih jagung rata-rata 20 kilogram, sehingga membutuhkan 106 ribu ton benih. Sementara kapasitas produksi benih nasional tidak pernah melebihi 60 ribu ton. Kekurangannya diambil dari mana," tutur Dean. 

    Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengingatkan pemerintah untuk memperhatikan faktor cuaca. Sebab, cuaca dinilai sangat esensial dalam rangka meningkatkan produktivitas jagung nasional. 

    "Contohnya pada tahun 2009/2010, produktivitas jagung nasional turun sebesar 0,45 persen dari periode sebelumnya akibat El Nino (Fenomena memanasnya suhu muka laut). Hal ini pada akhirnya menyebabkan tertundanya musim tanam pertama selama dua bulan," kata peneliti CIPS Assyifa Szami Ilman. 

    Dia menuturkan fenomena cuaca buruk dapat menunda musim tanam jagung serta menghambat pertumbuhan optimal dari komoditas tersebut. Sebaiknya pemerintah mengevaluasi program Upaya Khusus (Upsus) dengan menghentikan pemberian benih jagung hibrida ke daerah dengan pasar jagung kuat. 

    "Program ini juga sebaiknya dihentikan pada daerah dengan pasar jagung lemah, karena petani di pasar ini umumnya tidak menjadikan budi daya jagung sebagai prioritas dan mata pencaharian mereka," jelas Assyifa. 

    Dia berpendapat program Upsus efektif diberikan ke daerah pasar jagung semi kuat. Sebab, petani yang belum pernah menggunakannya dapat mengenal penggunaan benih jagung hibrida. 


    (AZF)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id