Omzet UKM Binaan PNM Tembus Ratusan Juta

    Desi Angriani - 19 Juli 2019 17:53 WIB
    Omzet UKM Binaan PNM Tembus Ratusan Juta
    UKM binaan PNM. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
    Payakumbuh: Sejumlah usaha kecil dan menengah (UKM) binaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) di Payakumbuh, Sumatera Barat, mampu menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per bulannya.

    Rosdiana, 54, mengaku mencetak omzet hingga Rp250 juta per bulan dari berjualan kue dan roti. Usaha kecil yang dibinanya sejak beberapa tahun lalu itu mampu meraih omzet lebih tinggi sejak menjadi nasabah Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) binaan PNM.

    "Sebelumnya cuma Rp150 juta, sekarang jadi Rp200 juta-Rp250 juta," ujarnya saat ditemui di Payakumbuh, Sumatera Barat, Jumat, 19 Juli 2019.

    Ia mengungkapkan modal yang diperolehnya sebagai nasabah ULaMM digunakan untuk membeli mesin pencetak roti dan kue. Mesin-mesin tersebut membantu Ros untuk memproduksi roti dan kue lebih banyak dibandingkan sebelumnya.

    Karena itu, Ros mulai memasarkan roti-roti tersebut hingga ke luar Sumatera Barat dengan menyasar kalangan menengah ke bawah. Roti yang dijual Ros berkisar di harga Rp2.000 sampai Rp5.000.

    "Kita jual untuk yang menengah ke bawah, dan sudah dipasarkan ke luar daerah," ungkap dia.

    Selain menjual roti, Ros juga merangkul nasabah Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) binaan PT PNM lainnya. Ia mengolah jamur tiram yang dibudidayakan oleh Yuharmonis untuk diproduksi menjadi keripik.

    Dari hasil olahan jamur tiram tersebut, Yuharmonis pun mampu mengumpulkan Rp150 ribu per hari lantaran Ros merupakan pelanggan tetap yang memasok 60 persen dari  jamur tiramnya.

    Yuharmonis mengaku usaha jamur tiram tersebut baru ia rintis pada awal 2019 melalui program binaan permodalan tersebut. "Omzetnya Rp150 ribu per hari dengan modal Rp50 ribu. Kita pasarkan sebagian ke ULaMM dan itu cukup untuk ongkos produksi," ujarnya.

    Berbeda dengan Pahlevi, pemilik usaha keripik Clarisa di Payakumbuh, Sumatera Barat ini meraih omzet Rp95 juta per bulan dengan memberdayakan pekerja di sekitarnya.

    Keripik yang ia jual merupakan keripik ikan asin, kripik sanjai dan berbagai jenis kripik lainnya. Keripik-keripik tersebut dikemas semenarik mungkin sebagai oleh-oleh khas Minangkabau.

    Usaha keripik miliknya berpusat di wilayah Lembah Harau atau salah objek wisata di Payakumbuh yang kerap dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

    "Kami produksi saat libur Lebaran dan menjelang akhir tahun biasa meningkat sampai Rp95 juta per bulan, itu masih bisa lebih tergantung permintaan," kata Pahlevi.

    Sejak terdaftar sebagai anggota binaan kelompok dari PNM, keripik miliknya mampu menembus tempat oleh-oleh yang paling laris di Kota Padang, termasuk swalayan dan minimarket.

    "Kita juga sudah tanda tangan kontrak dengan Transmart, jadi kita bisa menjual keripik ini di Carrefour," pungkas dia.

    Adapun PNM memproyeksikan penyaluran dana sebesar Rp13,5 triliun hingga akhir 2019, dengan rincian PNM Mekaar Rp10 triliun dan PNM Ulamm pada kisaran Rp3,5 triliun. Selain itu, PNM juga menarget untuk menambahkan jumlah nasabah PNM Mekaar dari 4,833 juta per Juli 2019 menjadi enam juta pada akhir tahun ini.

    Untuk mencapai target tersebut, pada Agustus nanti, PNM akan meluncurkan program Mekaar Plus, di mana nasabah bisa mendapatkan suntikan hingga Rp15 juta per orang tanpa jaminan.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id