BI: Pertumbuhan Kredit dan DPK di 2019 Belum Optimal

    Husen Miftahudin - 23 Januari 2020 19:45 WIB
    BI: Pertumbuhan Kredit dan DPK di 2019 Belum Optimal
    Ilustrasi. FOTO: dok MI.
    Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui pertumbuhan kredit sepanjang 2019 masih belum kuat seiring pola musiman permintaan kredit di akhir tahun. Meskipun pada November 2019 mengalami peningkatan dari 6,53 persen (yoy) pada Oktober 2019 menjadi 7,05 persen (yoy).

    Pun demikian dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). DPK tumbuh tipis dari Oktober 2019 sebesar 6,29 persen (yoy) menjadi 6,72 persen (yoy) pada November 2019

    "Dengan mempertimbangkan dinamika tersebut, pertumbuhan kredit perbankan 2019 sebesar 6,08 persen sedangkan pertumbuhan DPK sebesar 6,54 persen. Memang pertumbuhan sekitar tujuh persenan itu di bawah optimal karena siklus keuangannya sedang naik mengikuti siklus ekonomi yang sedang naik," ujar Perry dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 23 Januari 2020.

    Perry mengklaim stabilitas sistem keuangan tetap terjaga meskipun fungsi intermediasi perbankan menjadi perhatian. Terjaganya stabilitas sistem keuangan tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan November 2019 yang tinggi sebesar 23,66 persen dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang tetap rendah yakni 2,77 persen (gross) atau 1,24 persen (net).

    Meskipun pertumbuhan kredit belum kuat, jelas Perry, sumber pembiayaan ekonomi lain seperti penerbitan baru obligasi korporasi dan fintech tumbuh tinggi masing-masing sebesar 7,6 persen dan 141,5 persen.

    Menurutnya, pada 2020 berbagai sumber pembiayaan diprakirakan membaik sejalan prospek peningkatan pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan kredit dan pertumbuhan DPK yang masing-masing dalam kisaran 10-12 persen dan 8-10 persen.

    Ke depan, Bank Indonesia tetap menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait sehingga dapat tetap menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong fungsi intermediasi perbankan.

    "Kebijakan bank sentral tetap akomodatif yang masih konsisten dengan inflasi yang terjaga dalam sasaran, stabilitas eksternal, neraca pembayaran yang terjaga atau surplus, dan bagaimana mendorong momentum pertumbuhan ekonomi," tutup dia.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id