Jokowi: Ekspor untuk Jaga Stabilitas Harga Jagung

    Desi Angriani - 01 Maret 2019 17:04 WIB
    Jokowi: Ekspor untuk Jaga Stabilitas Harga Jagung
    Presiden Joko Widodo berdialog dengan petani seusai panen raya jagung di Desa Botuwombatu, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo. (FOTO: MI/Ramdani)
    Gorontalo: Presiden Joko Widodo menyebut ekspor komoditas jagung saat panen raya penting demi menjaga stabilitas harga jagung. Pasalnya, saat produksi jagung melimpah, maka harga ditingkat petani akan turun atau menjadi murah.

    Selama ini, kata Jokowi, para petani cenderung menanam satu komoditas yang harganya tengah melonjak di pasaran. Namun, ketika harga jatuh mereka enggan menanam kembali komoditas tersebut. Hal inilah yang sering mengakibatkan impor kebutuhan pangan di dalam negeri.

    "Sebetulnya ini hanya menjaga keseimbangan agar supply dan demand itu tidak melimpah. Kalau nanti supply-nya melimpah, harga jatuh, semua petani enggak ada yang mau menanam jagung lagi," ujar Jokowi saat berdialog dengan petani jagung di Desa Botuwombato, Kabupaten Gorontalo Utara, Jumat, 1 Maret 2019.

    Menurut Jokowi pemerintah akan mendorong perluasan pasar ekspor komoditas jagung lantaran masih tingginya permintaan dari luar negeri. Saat ini permintaan akan jagung terutama berasal dari Filipina, Malaysia, dan Thailand.

    Namun, ekspor komoditas jagung harus diimbangi dengan kualitas produk dan harga yang kompetitif. Demi mencapai target itu, Jokowi bakal meneruskan program intensifikasi lahan dengan benih unggul gratis, termasuk ekstensifikasi lahan dan modernisasi pertanian dengan memanfaatkan alat mesin pertanian (alsintan).

    "Pokoknya harga kita kompetitif, harga ekspor itu harus, mesti kompetitif, kualitas mesti harus baik, itu yang harus dipegang, bahwa pasar masih membutuhkan untuk pakan ternak di hampir semua negara," katanya.

    Adapun produksi jagung nasional 2018 mampu menekan impor dari 3,2 juta ton di 2014, menjadi hanya 380 ribu ton. Sementara target produksi nasional tahun ini mencapai 33 juta ton, dengan target ekspor sebesar 500 ribu ton.

    Target ekspor tersebut dapat diwujudkan dari hasil panen raya jagung di Gorontalo sebesar 1,7 juta ton tahun ini. Jumlah ini juga tercatat mengalami peningkatan dari sebelumnya 560 ribu ton pada 2015 dan 1,5 juta ton pada 2018.

    Menteri Pertanian Amran Sulaiman menambahkan tingginya produktivitas jagung di Gorontalo akan memaksimalkan lumbung jagung nasional lainnya seperti Jawa Timur, NTB, Lampung, dan Sumatera Selatan.

    "Tahun ini Gorontalo juga didorong untuk ekspor sebesar 150 ribu ton," ungkap Amran.

    Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) produksi jagung nasional mengalami peningkatan sejak 2015. Produksi jagung nasional semula hanya 19,61 juta ton dan meningkat menjadi 23,58 juta ton pada 2016. Lalu, naik menjadi 28,92 juta ton pada 2017, dan tembus 30 juta ton pada 2018.

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id